Tuesday, 2 December 2008

Inspirasi: Ermey Sukses setelah Memanfaatkan Semua Peluang

HOBI, lagi-lagi bisa mengantarkan seseorang meraih sukses dalam berbisnis dan berkarier. Karena itu jika Anda memiliki hobi, kembangkanlah. Siapa tahu hobi itu dapat mengantarkan Anda menuju gerbang kesuksesan, seperti yang dialami Ermey Trisniarty, pemilik usaha Dapur Cokelat.

Menurut Ermey Trisniarty, 30, ia mendirikan Dapur Cokelat tahun 2001 dengan menyewa sebuah tempat di Jalan KH Ahmad Dahlan, Jakarta Selatan. Di tempat itu, ibu dari Adithya Pratama, 15, dan Akheela Chandra, 7 bulan, menjual aneka kue dan permen cokelat yang ia produksi.

Tatkala ditanya mengapa ia memilih cokelat sebagai bahan baku utama dari kue dan permen yang dijual di Dapur Cokelat, Ermey segera menjawab pertanyaan tersebut sambil tertawa ringan.
"Saya hobi ngemil cokelat. Begitu gemarnya makan cokelat, saya sampai bercita-cita mendirikan toko cokelat," ungkap wanita yang hobi memasak itu.


Sebelum cita-citanya itu terwujud, Ermey memulai bisnis kue dan permen cokelat dengan menerima pesanan di rumah. Bisnis rumahan tersebut ia lakukan selama lima tahun, sejak masih kuliah tahun 1994, hingga bekerja dan melanjutkan pendidikan di jurusan manajemen.

Meskipun hanya menjalani bisnis rumahan, Ermey cukup agresif mempromosikan kue dan permen buatannya. Setiap Idul Fitri, Natal, Valentin, dan Tahun Baru tiba, anak ketiga dari tujuh bersaudara itu menitipkan sampel kue dan permen kepada kerabat, kakak, dan adiknya.

"Upaya promosi itu membuahkan hasil. Pesanan berdatangan. Ada yang dari kerabat, teman kerja kakak, teman kuliah adik, dan teman kerja sepupu. Bahkan, ada pula yang menjadi pelanggan tetap," kata Ermey.

Untuk memenuhi pesanan tersebut, Ermey menghabiskan sekitar 50 kg cokelat masak dalam sebulan. Ketika menerima pesanan itulah ia melihat ada peluang pada pangsa kue dan permen cokelat, baik dari sisi konsumen maupun lingkungan industri.

"Saat itu saya lihat banyak orang yang gemar makan cokelat. Tapi, di pasaran belum banyak beredar kue dan permen cokelat. Kalaupun ada, hanya di hotel. Harganya pun relatif mahal," ujar Ermey sambil tertawa.

Dari situ timbul ide membuat toko kue dengan harga yang lebih murah daripada hotel. Kebetulan, ide tersebut memang sejalan dengan cita-cita Ermey untuk mendirikan toko cokelat.

Akhirnya, berbekal uang Rp75 juta yang ia peroleh dari orang tuanya, Ermey mendirikan Dapur Cokelat. Uang yang menurutnya 'pas-pasan' itu, ia gunakan untuk menyewa sebuah toko di Jalan KH Ahmad Dahlan, Jakarta Selatan. Sisanya, ia gunakan untuk membeli peralatan
produksi, mendekorasi toko, dan membiayai kegiatan promosi.

Berhubung budget terbatas, Ermey terpaksa menekan biaya yang harus dikeluarkan. Untuk menekan biaya promosi, Ermey menggunakan mailing list sebagai sarana promosi. Lewat mailing list tersebut, wanita yang murah senyum itu menginformasikan kegiatan 'icip-icip' gratis selama dua bulan di tokonya. Untuk menekan biaya 'icip-icip' gratis, sampel kue ia potong kecil-kecil.

Upaya lain untuk menekan biaya ia lakukan dengan membeli alat produksi yang tidak disesuaikan dengan standar pastry, melainkan fungsi dan hasil akhir. Cetakan cokelat yang seharusnya terbuat dari stainless steel, ia ganti dengan cetakan kue satu yang terbuat dari kayu atau plastik. Bahkan, beberapa alat seperti meja kerja, dia bawa dari rumah.

Di samping kendala biaya, Ermey juga sempat dihadapkan dengan rasa cemas dan takut kue yang dijualnya tidak laku. Namun, rasa takut itu dihalaunya berkat adanya dukungan dari keluarga.

Sang suami, Okky Dewanto, 46, turut memegang peranan dalam mendukung bisnis Ermey. Dalam menjalankan Dapur Cokelat, pasangan suami istri ini berbagi tugas. Okky bertanggung jawab atas manajemen Dapur Cokelat. Sementara Ermey bertanggung jawab mengawasi kegiatan produksi Dapur Cokelat.

Kekompakan mereka dalam mengelola Dapur Cokelat, tampaknya, membuahkan hasil. Kini Dapur Cokelat telah tersebar di tiga tempat, Jalan KH Ahmad Dahlan, Menteng, dan Bekasi. Rencananya, bulan Juli nanti, akan dibuka satu Dapur Cokelat lagi di Jalan Wijaya, Jakarta Selatan.

Di sela-sela kesibukan mengelola tiga Dapur Cokelat, Ermey masih sempat travelling ke luar kota. Pasar tradisional merupakan salah satu tempat yang wajib dikunjunginya tatkala ia pergi ke luar kota. Sesekali, ia juga pergi ke luar negeri, seperti Singapura.

Selain travelling, Ermey juga mengisi waktu luangnya dengan membaca buku tentang masakan maupun profil orang-orang terkenal. Dari buku masakan yang dibacanya, ia sering mendapat ide untuk melakukan inovasi terhadap produk yang dijualnya. Sedangkan dari profil yang dibacanya, Ermey selalu menemukan hal menarik yang dapat ia terapkan dalam menjalani hidup. Mungkin, kebiasaan membaca profil itulah yang membuat wanita ini terinspirasi untuk menjadi wanita sukses seperti sekarang.(Dimuat di Rubrik Peluang Media Indonesia pada tanggal 23 Mei 2005)

TEASER:

---------

"Saat itu saya lihat banyak orang yang gemar makan cokelat. Tapi, di pasaran belum banyak beredar kue dan permen cokelat. Kalaupun ada, hanya di hotel. Harganya pun relatif mahal."

No comments: