Tuesday, 2 December 2008

Inspirasi: Mesin Jahit Tua, Modal Awal Jackie

KECINTAAN Zakiah Ambadar, 54, pada anak kecil, membuat perempuan yang biasa dipanggil Jackie ini tertarik mendirikan Le Monde pada tahun 1982 lalu.
Lewat perusahaan yang dirintis bersama dua adiknya, Nina dan Ida, wanita kelahiran Jakarta itu berusaha untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan produk perlengkapan bayi yang tidak saja komplet, tapi juga berkualitas.
"Gagasan membuka Le Monde muncul ketika Ida pergi ke Australia. Di sana, Ida melihat ada sebuah toko perlengkapan bayi yang lengkap dan bagus," ungkap lulusan Sosiologi Universitas Indonesia (UI) tahun 1971 itu.
Menyadari toko selengkap itu belum ada di Indonesia, Jackie dan dua adiknya sepakat membangun usaha yang memproduksi aneka perlengkapan bayi. Alasan lain, Jackie melihat adanya kebutuhan kaum ibu akan perlengkapan bayi yang lengkap terus meningkat.
"Saat itu, kaum ibu mulai disibukkan dengan aneka pekerjaan.Akibatnya, mereka tidak sempat menjahit perlengkapan bayi, seperti bantal, guling, seprei, dan pernak-pernik lainnya," kata Jackie.
Berbekal sebuah mesin jahit tua milik ibu mereka dan uang sebesar Rp900 ribu, hasil patungan, Jackie dan dua adiknya memproduksi aneka perlengkapan bayi yang dibutuhkan kaum ibu. Selanjutnya, produk-produk itu mereka pasarkan melalui sebuah counter yang mereka sewa di Pasaraya. Produk andalan Le Monde saat itu ialah keranjang bayi (carry basket).
Awalnya, keterlibatan Jackie di Le Monde hanya sebagai konsultan manajemen karena ia masih memiliki 'bayi' bernama PT Surindo Utama yang harus dikelolanya.
"Sebelum Le Monde, saya telah mendirikan PT Surindo Utama tahun 1980. Beban saya terlalu besar bila harus mengelola dua perusahaan. Apalagi PT Surindo Utama yang bergerak di bidang jasa penelitian dan konsultan sumber daya manusia (SDM) itu mulai berkembang sehingga memerlukan perhatian ekstra," kata Jackie.
Sebagai konsultan yang berpengalaman di bidang penelitian, Jackie mengamati, bisnis yang dijalani Le Monde berprospek cerah.Antusiasme masyarakat terhadap produk yang dijualnya cukup tinggi.
Pada hari pertama counter Le Monde dibuka, di jam pertama, produk yang di-display langsung terjual. Hal tersebut, tentu saja, membuat semangat Jackie dan adiknya kian tinggi. Dari hari ke hari, penjualan meningkat dari puluhan unit per bulan menjadi ratusan unit per bulan. Akhirnya, Jackie dan dua adiknya memutuskan untuk mendirikan toko.
Pada 1984, toko pertama yang terletak di Jalan Radio Dalam pun berdiri. Kemudian, pada 1986, produk-produk Le Monde mulai dipasarkan ke negara-negara yang ada di Australia, Eropa, dan Timur Tengah. Pada 1993, Jackie melepaskan diri dari PT Surindo Utama dan melibatkan diri dalam jajaran manajemen Le Monde.
Tantangan yang dihadapi Jackie tatkala mulai melibatkan diri dalam jajaran manajemen Le Monde cukup berat. Le Monde yang tadinya merupakan satu-satunya pemain di industri perlengkapan bayi, harus menghadapi pemain-pemain baru yang muncul dan menawarkan produk-produk baru. Dalam menghadapi persaingan yang kian ketat, Jackie punya kiat sendiri. "Sebagai pionir, Le Monde harus selangkah lebih maju dan kreatif," kata wanita yang hobi menulis, fotografi, dan berkebun itu.
Berbekal kiat tersebut, ia pun meluncurkan berbagai jenis produk baru dengan desain yang baru pula. Strategi itu berhasil. Permintaan (demand) meningkat. Namun, sayangnya, pengawasan kualitas (quality control) yang ketat membuat kapasitas produksi Le Monde tidak dapat memenuhi semua permintaan yang ada.
Kendala lain muncul. Belum lama terlibat secara penuh dalam manajemen Le Monde, tahun 1997, Jackie harus kembali ke PT Surindo Utama untuk membenahi laporan keuangan yang 'berantakan' akibatmismanagement. Kembalinya Jackie ke PT Surindo Utama membuat ia harus mengelola dua perusahaan pada saat bersamaan. Tapi, bukan Jackie namanya, jika ia tidak pandai membagi waktu.
Kelihaiannya membagi waktu dan mengelola perusahaan membuat PT Surindo Utama dan Le Monde tetap eksis hingga saat ini. Bahkan, Le Monde terus berkembang. Di tangan ibu dari Revo, 19, dan Fanny, 18 itu, kini produk-produk Le Monde telah tersebar di sembilan toko dan lebih dari 100 counter yang ada di seluruh Indonesia. Lima dari sembilan toko yang ada, dimiliki oleh pemegang hak waralaba Le Monde.
Tatkala ditanya tentang kunci sukses dalam mengelola Le Monde, wanita yang pernah bercita-cita menjadi wartawan itu menjawab, "Komitmen untuk membuat produk berkualitas untuk konsumen kelas menengah-atas harus selalu dijaga."
Saat ini, wanita yang mengisi liburan akhir pekannya dengan berkebun itu sedang merintis sebuah yayasan bernama 'Komunitas Kencana'. Lewat yayasan tersebut, ia dan rekan-rekannya ingin memberikan apresiasi terhadap orang-orang berusia lanjut dengan menyediakan sarana, fasilitas, dan program jasa layanan bagi warga berusia di atas 50 tahun. (Dimuat di Rubrik Peluang Media Indonesia pada tanggal 30 Mei 2005)

No comments: