SEKITAR 14 tahun lalu, Dian, 45, terpaksa merelakan satu payudaranya diangkat. Rupanya, kanker payudara yang dideritanya saat itu sudah memasuki stadium III.
Karena khawatir sel-sel kanker yang dideritanya telanjur menyebar ke organ tubuh lain, ia pun mengikuti saran dokter yang menganjurkannya melakukan operasi pengangkatan payudara.
Keputusan yang diambilnya memang tidak mengenakkan karena membuatnya harus kehilangan satu payudara dan menggantinya dengan silikon. Meski begitu, ia mengaku hidupnya kini lebih nyaman karena tidak perlu mengikuti lagi pengobatan kemoterapi yang membuat rambutnya rontok dan tak jarang menimbulkan rasa mual.
Kasus seperti itu tak hanya dialami Dian, tapi juga sejumlah penderita kanker lainnya. Padahal, seandainya pengobatan dengan teknologi nano sudah diterapkan saat itu, kasus yang menimpa Dian mungkin tidak akan terjadi.
Mengapa bisa begitu? Menurut peneliti dari Lombardi Comprehensive Cancer Center Pusat Kedokteran Universitas Georgetown Amerika Serikat Esther H Chang, pengobatan dengan teknologi nano tidak akan merusak sel tubuh yang sehat karena teknologi tersebut akan langsung menyasar pada sel-sel kanker yang dituju lalu membunuhnya.
"Pengobatan dengan teknologi nano sangat efektif karena menggunakan partikel nano yang sangat kecil. Karena itu, partikel ini dapat menyebar di dalam darah. Selain itu, partikel nano juga mampu membedakan sel baik dan jahat," papar Chang yang diwawancarai Media Indonesia, Sabtu (10/5), di sela-sela simposium bertajuk Frontier of Cancer Research di Universitas Pelita Harapan (UPH), Tangerang, Banten.
Partikel nano, lanjut perempuan yang melakukan riset mengenai penerapan teknologi nano pada terapi kanker itu, terbuat dari bahan sintetis bernama tumor surpressor genes yang dibungkus dalam cangkang liposom.
Pengobatan dengan partikel nano dapat dilakukan dengan cara menyuntikkannya ke tubuh pasien. Selanjutnya, partikel akan bekerja sendiri mencari sel kanker dan melemahkannya.
Chang juga mengatakan pengobatan dengan teknologi nano dapat digunakan untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit kanker dan mendeteksi sel-sel yang berpotensi terkena kanker.
Jika dibandingkan dengan cara konvensional, seperti radioterapi atau terapi gen, penanganan kanker dengan teknologi nano lebih akurat dan dapat meminimalisasi efek samping. Selain tidak menimbulkan radiasi, pemakaian partikel nano tidak menimbulkan penolakan dari tubuh dan tidak berbahaya bagi otak.
Pada kesempatan yang sama, Clinical Professor di Department of Medicine Georgetown University School of Medicine Washington DC Prof dr Curtis C Harris mengatakan diet dengan menu tidak seimbang yang sering dilakukan kaum perempuan dapat memicu pertumbuhan sel kanker.
Karena itu, ia menyarankan agar orang lebih memerhatikan pola makan, kandungan nutrisi yang terdapat di dalam makanan, dan tidak hanya mengonsumsi satu jenis bahan makanan.
"Faktor genetik memang dapat membuat seseorang terkena kanker, tapi gaya hidup (lifestyle) dan makanan yang dikonsumsi juga berpengaruh," tegas Professor Curtis.
Untuk itu, Prof Harris menyarankan agar orang lebih memerhatikan pola makan, memenuhi kebutuhan nutrisi yang sesuai dengan usia dan berat badan, tidak mengonsumsi satu jenis bahan makanan saja, dan mengubah gaya hidup. Dengan olahraga secara teratur, memperbaiki pola makan, dan mengonsumsi buah serta sayuran segar, tambahnya, orang tak hanya hidup lebih sehat, tapi juga bisa terhindar dari penyakit kanker.
MRIN
Menurut Direktur Bidang Hubungan Internasional Institut Kanker Nasional Amerika Serikat Joe B Harford, penggunaan teknologi nano untuk pengobatan masih terbatas, namun riset mengenai itu sudah banyak. Di Indonesia, misalnya, kini ada pusat penelitian kanker bernama Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN) yang berlokasi di Lippo Karawaci, Tangerang.
Lembaga itu didirikan pada 2006, namun baru diresmikan 12 Mei 2008 itu, pada tahap awal berfokus pada studi yang berhubungan dengan kanker hati (hepatocellular carcinoma).
Chairman Lippo Group Mochtar Riady mengatakan pembangunan MRIN menghabiskan investasi sebesar US$30 juta. Setiap tahun juga akan dikucurkan dana tambahan sebesar US$3 juta.
Dana sebesar itu dimanfaatkan untuk membiayai penelitian yang dilakukan lima divisi yang bernaung di bawah lembaga riset tersebut yaitu divisi molecular epidemiology, divisi proteomic, divisi single nucleotide polymorphisms (SMP), divisi immunology, dan divisi genomic.
Saat ini, pusat penelitian tersebut memiliki delapan peneliti. Lima dari delapan peneliti berasal dari dalam negeri. Sementara itu, sisanya adalah ekspatriat. Sejauh ini penelitian mengarah pada studi yang bersifat spesifik, seperti riset mengenai รก-1-acid glycoprotein yaitu protein yang diambil dari darah yang selanjutnya digunakan untuk mendeteksi penyakit kanker hati.
Kehadiran MRIN mendapatkan sambutan baik dari Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) Kusmayanto Kadiman.
''Saya menyambut baik kehadiran research center. Persentase anggaran total belanja nasional untuk riset terhadap gross national product (GNP) sekarang ini masih jauh di bawah dua persen. Padahal, PBB berpesan agar setiap negara menyisihkan minimal 2% dari GNP untuk melakukan penelitian,'' papar Kusmayanto pada peresmian MRIN di Lippo Karawaci, Tangerang. (Dimuat di Edisi Kesehatan Media Indonesia pada tanggal 14 Mei 2008)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment