Saturday, 29 August 2009

Negeri Pasir (1)

-LELAKI SEPERTI PASIR-

TAKSI yang kutumpangi berhenti tepat di depan FX. Hari itu, Minggu, 16 Agustus 2009, aku datang ke sana untuk menemui Dhina. Salah seorang sahabat perempuan yang kukenal ketika kuliah di Kampus Ganesa, Bandung. Sudah lama aku tidak nongkrong dengannya.

Setelah membayar taksi yang argometernya memperlihatkan angka 10.500, aku bergegas ke luar dari mobil berwarna putih itu. Jarum jam menunjuk angka 17.45 WIB. Langit masih biru. Hembusan angin yang menampar tubuh terasa hangat.

Aku berjalan menuju pintu masuk FX dengan tergesa-gesa. Sejuknya AC mendorongku untuk segera menginjakkan kaki di dalam mal. Namun, langkahku harus terhenti sejenak akibat security check.

Tas kubuka. Petugas keamanan tampak tersenyum melihat isi tasku. Kamera, dompet, beauty case, sisir, dan tentu saja dua roll rambut berwarna biru muda. Rol yang diameternya sebesar diameter payung adalah barang andalan yang selalu kubawa pada saat ini.

Memiliki rambut dengan panjang sebahu bukanlah hal mudah buatku. Tanpa rol, rambut pasti akan seperti singa. Runcung dengan bagian ujung mengarah ke luar. Begitu julukan tante dan sepupu-sepupuku.

Untung saja, pemeriksaan tidak lama. Kurang dari lima menit. Udara hangat berubah dingin begitu aku memasuki pintu FX. Mataku langsung melirik ke sebelah kiri. Terlihat tulisan Cold Stone. Aku melangkahkan kaki ke sana.

Orang yg kucari ternyata tak ada di gerai Cold Stone. Kuambil handphone dari dalam tas selempang berwarna cokelat. Belum sempat kutekan tombol-tombolnya, handphone berbunyi. 02126xxxxxx. "Rinceee, di mana?" Nada ramah dan ceria ke luar dari earphone. Aku hafal suara itu. Suara Dhina alias Si Ambon.

Itu adalah panggilan kesayangan kami, yakni aku dan teman-temanku, untuk dia. Rambutnya saat ini lurus dan ikal pada bagian bawah. Namun, rambut aslinya keriting. Itu sebabnya, kami menjuluki perempuan keturunan Ngawi tersebut Si Ambon.

"Aku udah di depan Cold Stone, Na," jawabku. "Loh, Na barusan lewat situ, kog ga liat. Tunggu, ya. Na susul kamu ke sana."

Tidak sampai lima menit, bayangannya sudah terlihat di kaca yang ada di depan gerai Cold Stone. Bercelana jeans, atasan cokelat. Tak ketinggalan, tasnya pun berwarna cokelat. Ia tidak sendiri. Di sebelah kiri ada adik lelakinya, Dhito. Ia berkulit putih yang tingginya sekitar 10-15 sentimeter di atas Dhina. Selama ini, Dhito memang sering menemani kakaknya.

Pertemuan dimulai dengan cium pipi kiri dan kanan. Seperti biasa, Dhito atau si adik, protes. "Kita ko ga cipika cipiki juga?" Si adik memang lucu. Dia suka mengeluarkan komentar-komentar yang polos dan kadang tidak kuduga.

Si mbak penjual es krim melayani kami dengan sabar. Dhina, seperti biasa, memilih es krim rasa dark chocolate. Aku, masih bingung. Setelah icip-icip yang rasa mint, green tea dan apple, pilihan jatuh pada es krim berasa mint. Untuk menutupi rasa manis, aku meminta mbaknya mencampur dengan blueberry.

Kami berjalan bertiga sambil saling icip-icip es krim. "Trus, kita mau ke mana?" tanya Dhina. "Wisata kuliner di parkir timur senayan aja, yuk. Kalo ga, kita ke kopitiam oey." Tapi, kulihat pandangan bingung di bola mata Dhina yang besar. "Kita duduk dulu di Cold Stone. Sambil ngobrol. Setelah itu, baru kita tentuin mau ke mana."

Kami duduk di lantai dua. Obrolan bermula dengan menanyakan kabar teman-teman. Si adik sibuk membuka-buka majalah. Pembicaraan mengenai kabar teman-teman terhenti. Dhito memperlihatkan foto anjing. Yang ini sudah kuduga. Mata Dhina langsung berkaca-kaca. Padahal adik menunjukkan gambar anjing untuk menyenangkan hati kakaknya.

Tapi, Dhina yang baru saja kehilangan anjing kesayangannya justru menjadi sedih. Pembicaraan pun beralih, dari kabar teman-teman ke anjing. "Aku sedih banget. Anjingku, si Golden, mati. Di tanganku, dan gara-gara aku," kata Dhina.

Bukannya ikut sedih, aku malah tertawa. Teringat kejadian beberapa hari lalu, ketika chit chat lewat yahoo messenger dengan Dhina. Waktu itu, Dhina menulis kalau si golden meninggal. Pikiranku langsung terbang dan membayangkan kucing-kucing yang ada di rumahnya yang di Bandung. Karenanya, aku langsung menanggapi kata-katanya dengan mengucapkan turut berduka cita.

Begini isi postingannya, "Na, aku turut berduka atas matinya si meong. Jangan sedih, ya."

Di luar dugaan, Dhina menulis seperti ini. "Golden itu kan guguk, bukan meong." Ups, aku membuat kesalahan. Golden ternyata anjing jenis Golden Retriever.

Pembicaraan ttg si golden berlanjut. "Na sedih karena golden mati di pelukan Na. Trus, yang bikin golden mati juga Na."

Pikiranku langsung berimajinasi. Mati di tangannya. Apakah itu berarti Na salah ngasih makan? Tebakanku ternyata salah. Golden mati karena prosedur memandikannya salah. Usia Golden baru tiga bulan. Dhina memandikannya seminggu sekali.

"Na mandiin Golden seminggu sekali supaya enak meluknya. Na kan suka mangku dia," kata Dhina. Padahal, golden retriever baru boleh dimandikan setelah berumur lebih dari enam bulan.

Usai bercerita, air mata kembali jatuh di pipi Dhina yang bersemu merah itu. "Na miara golden waktu umurnya baru dua bulan. Jadi, na baru urus dia sebulan. Eh, udah mati." ujarnya. Setelah itu, pembicaraan ttg golden selesai.

Cerita kembali pada kabar teman-teman, aku, Dhina dan Dhito, serta kisah cinta tentang kasus KDRT yang konon terjadi akibat perbedaan agama. Si istri yang kristian ingin membaptis anaknya. Sang suami yang muslim tidak mengizinkan anaknya dibaptis.

Yang kami bahas bukan individu atau agamanya, tetapi lebih pada pentingnya konsistensi dan komunikasi di antara pasangan menikah yang beda agama. Dhina juga menyentil sedikit tentang hubunganku dg pria yang berbeda agama.

"Kalau nikah sama yg beda agama, yang penting komunikasiin nanti anak ikut agama siapa," kata Dhina. Aku hanya nyengir mendengar ucapannya. "Yah, sayang aku cewe. Perempuan muslim kan gak bisa nikah sama laki-laki nonmuslim."

Pembicaraan berlanjut. Objek penderita kali ini adalah perempuan-perempuan yang terlalu cinta atau menggenggam cowonya terlalu erat. Seperti biasa, Dhina sangat cerewet hari itu.

"Pacarku bilang, laki-laki itu kayak pasir."

Dhina mengepalkan jari-jarinya, lalu menunjuk setiap sela yang ada di antara jari satu dan lainnya. "Bayangin ada pasir di dalam kepalan tanganku. Semakin keras kita menggenggam, semakin banyak pasir yang ke luar dari sela-sela jari kita. Trus, lama-lama akan habis."

Dhina membuka kepalan jarinya. "Tapi, kalo kita lepas kepalannya, pasir itu justru gak akan habis."

No comments: