Saturday, 29 August 2009

Negeri Pasir (2)

- PASIR ITU HEBAT JUGA -

ADA enam hal yang membuatku terpesona pada The Logic White Guy. Pertama, ia good looking alias enak dilihat. Big eyes, pale skin dan broad shoulders merupakan daya tariknya. Kedua, dia hangat dan sopan. Ketiga, ia pintar dan logikanya selalu jalan. Keempat, suaranya bagus. Kelima, dia selalu ada setiap kali aku membutuhkannya. Keenam, aku nyaman berkomunikasi dengannya.

Ketika pertama kali berjumpa dengannya, aku langsung terkesima dengan penampilannya yang good looking. Ia memakai jas dan celana hitam. Penampilannya tampak modis karena dia mengenakan kemeja putih dengan kerah diangkat. Belakangan, aku tahu kalau celana yang dikenakannya bermerek Jobb. Merek yang mengingatkan aku pada seorang perempuan cantik yang dulu kupikir bisa menjadi ibu mertua yang menyenangkan.
Ok, lupakan masa lalu. Kembali ke The Logic White Guy. Dia ternyata bersuara indah dan pandai menyanyi. Mungkin bakat menyanyi turun dari ibunya yang pemimpin koor di gereja. Sungguh berbeda dengan suaraku yang cempreng. Dulu, waktu baru dekat, ia meneleponku hampir setiap malam. Hanya untuk menyanyikan satu atau dua bait lagu. Aku kadang iri dengannya. Sekitar 20 tahun lalu, mamaku pernah memenangkan lomba menyanyi seriosa tingkat nasional. Bahkan, TVRI pernah menawarinya menyanyi. Tapi, entah mengapa bakat itu tidak menurun padaku.
Suara cemprengku sempat membuat papa khawatir. "Kayaknya kamu perlu kursus di John Robert Power, deh. Kalau perlu, kursus olah vokal untuk memperbaiki kualitas suara kamu," kata papa ketika aku SMA. Saran tersebut kembali dilontarkan pada saat aku kuliah. Waktu itu papa tinggal di Makassar, aku kuliah di Kampus Hijau, Jakarta. "John Robert Power lagi buka kelas baru. Kamu daftar kursus kepribadian, ya. Kabari papa secepatnya begitu kamu sudah ke sana." Ucapan papa adalah titah yang harus segera dijalankan. Papa tidak suka melihat orang menunda pekerjaan, termasuk anaknya. Aku segera ke John Robert Power. Ternyata kelas belum bisa dibuka karena pendaftar baru dua orang. Berkali-kali aku mendaftar, gagal terus. Kelas yang kuminati tak pernah mencapai kuota. Aku tak pernah menyangka kalau perjumpaan pertama akan berlanjut dan berubah menjadi hubungan yang awet, hingga lebih dari tiga tahun. Padahal begitu banyak perbedaan di antara kami. Yang kasat mata, warna kulit kami jelas berbeda. Dia berkulit putih bersih, aku cokelat gelap. Dia good looking, aku biasa saja. Perbedaan lain, aku cerewet, dia agak pendiam. Aku berpikir dan berbicara tanpa logika, dia sangat berlogika dan selalu berhati-hati dalam berkata-kata. Aku Sunda, dia Batak.
Dilematis. Mama sangat ingin aku mendapatkan suami dari suku Batak. "Cowo Batak itu biasanya tegas, tapi mau ngikutin keinginan kamu." Begitu kata Mama. Usut punya usut, mantan pacar mama ternyata orang Batak. Tapi, tidak jadi menikah karena engki menjodohkan mama dengan papa. Engki adalah panggilanku untuk kakek. Kayaknya sih, mama sampai sekarang masih gondok karena engki tidak merestui hubungan mereka. Padahal, lelaki batak yang berbeda agama dengan mama itu sudah berencana pindah agama.
Di lain pihak, papa lebih senang kalau aku menikah dengan pria bersuku Jawa atau Sunda. Syarat lain, harus seagama dan single. Status single yang dimaksud papaku adalah pria yang tidak memiliki istri. Persyaratan yang sulit karena The Logic White Guy berbeda keyakinan denganku. Ini adalah kisah cinta terlarang yang tidak mungkin kulanjutkan. Tapi, justru mampu bertahan lebih dari tiga tahun. Mungkinkah karena kami menganut prinsip 'pasir'? Aku tak pernah menggenggamnya dengan erat. (bersambung) Selama berhubungan lebih dari tiga tahun, aku sangat jarang menelepon dia. Mungkin tak sampai 100 kali. Artinya, aku menelepon dia tak sampai empat kali dalam sebulan. Aku juga nyaris tidak pernah memintanya menemaniku, kecuali kalau ada urusan penting yang tak bisa kutangani sendiri. Pada 1,5 tahun pertama, kami bertemu hampir setiap hari. Setelah itu, frekuensi berkurang menjadi seminggu sekali karena kami sadar hubungan ini harus segera dihentikan. "Aku dan kamu tidak mungkin pindah agama. Artinya, hubungan ini nggak akan benar kalau dilanjutkan," ujar The Logic White Guy. Ia kemudian diam. "Trus?" tanyaku sambil memandang matanya yang besar. Bola matanya terlihat berusaha menghindari bola mataku. "Kita harus berhenti. Kamu harus mencari laki-laki lain untuk menjadi suamimu," katanya perlahan. "Ooo begitu. Ya udah, nanti kucari. Mudah-mudahan sih cepet dapet. Aku males nyari-nyari. Palagi kalo ampe ngejar-ngejar cowo," timpalku dengan santai. "Kamu gak boleh malas. Ayo semangat." Ia kembali diam selama beberapa detik, lalu melanjutkan ucapannya. " Tapi hubungan kita juga gak bisa langsung berhenti. Itu namanya maksain. Kalo distop sekarang akan menyakitkan, bagiku maupun kamu. Paling gak, butuh waktu setahun untuk benar-benar lepas." Pernyataannya membuatku mendengus di dalam hati. "Huh, kamu pikir gampang kali ya nyari cowo yg bisa bikin aku nyaman. Setelah putus sama mantanku yg sebelumnya, aku butuh waktu tiga tahun utk bisa membuka diri sama kamu. Itu juga beruntung karena kamu mau ngejar aku. Kalo gak, kita pasti gak pernah kayak sekarang." The Logic White Guy membuktikan ucapannya. Frekuensi pertemuan berkurang dari setiap hari menjadi seminggu sekali. Itupun bukan malam minggu. "Supaya kamu bisa jalan sama cowo laen," jelasnya. Meski begitu, ia tetap mengecek keberadaanku. "Malam minggu ini kamu jalan-jalan, kan? Sama siapa?" Kalau kujawab tidak ke mana-mana atau pergi, tapi dengan teman perempuan, ia akan ngomel. "Jangan gitu, dong. Masa perginya bukan sama cowo!?" Setahun berlalu, kupikir dia akan benar-benar pergi dari hidupku. Ternyata tidak. Dia masih tetap datang. Kadang aku merindukannya. Pada saat yang bersamaan, ia biasanya menelepon dan mengajak jalan. Kontak batin di antara aku dan dia ternyata masih ada. Walaupun aku tidak pernah menuntut untuk bertemu, dia tampaknya masih merasa wajib untuk menemaniku minimal seminggu sekali. Aku juga tahu dia selalu merasa bersalah jika tidak menemuiku sekalipun dalam seminggu. "Aduh, aku dah lama ya gak maen sama kamu. Minggu kemarin, kerjaanku selesainya malam terus. Minggu ini juga kayaknya bakal begitu. Tapi, aku usahain untuk dolan sama kamu malam ini." Aku tidak suka memaksa orang yang sedang sibuk bekerja untuk menemaniku. Karenanya, aku pasti akan menjawab seperti ini. "Gak usah, deh. Nanti kamu malah tepar. Lagian aku juga lagi banyak tulisan." Tapi, dia biasanya sudah punya jawaban jitu. "Jangan gitu, dong. Aku kan lapar. Kalau aku makan di kantor pasti menghabiskan waktu sejam juga. Trus, kamu juga kan pasti belum makan. Ayo, kutemani kamu makan." Setahun berlalu. Ia meningkatkan kembali frekuensi pertemuan kami. Pada akhir pekan, dia juga datang lagi. Aku pernah bertanya, "Kok kamu masih mau deket-deket sama aku?" "Ya iya lah. Aku kan nyaman karena tahu kamu selalu ada untukku.Aku menghilang karena sibuk, kamu tetap ada. Aku muncul lagi, kamu masih mau nerima."

No comments: