-LELAKI, PASIR, DAN SENDOK NASI-
PERTEMUAN dengan Miss Optimistic menambah ilmu ttg how to keep sand in my hand: Buat pasangan bergantung pada kita....
Aku tiba di jalan Bangka, Jakarta, sebelum pukul 14.00 WIB. Siang ini izin kantor, spesial untuk mengantarkan Miss Honest ke Bandara Soekarno-Hatta. Ia adalah satu dari dua sepupu yang usianya tidak berbeda jauh denganku. Dia akan berangkat ke Jepang untuk mengikuti suaminya yang kembali bertugas di sana.
Aku berangkat ke jalan Bangka untuk menghampiri Miss Optimistic. Ia adalah kakak sepupu yang 'dekat' denganku karena pernah tinggal di area yang sama. Orangtuaku di Rawabambu, orangtuanya di Salihara.
Ini adalah pertama kalinya aku mendatangi kantor Miss Optimistic. Cukup membingungkan karena penomoran rumah di daerah tersebut tidak berurutan. Dalam deret yang sama bisa ada nomor ganjil dan genap yang tidak berurutan. Tapi, untung saja supir taksi tidak sempat membawaku nyasar.
Taksi berhenti di depan bangunan bernomor 43. Pada bagian depan terdapat sebuah truk serta sedan berwarna abu-abu. Nama perusahaan terpampang di dinding. Tulisan itu mampu meyakinkan bila aku berada di tempat yang tepat. Seorang lelaki dengan tinggi kira-kira dua jengkal di atasku menyapa. "Cari siapa, mbak?" Lalu kujawab, "Miss Optimistic."
Setelah kuberitahu kalau aku adalah sepupu Miss Optimistic, lelaki yang tidak kuketahui namanya itu mempersilakan aku untuk naik ke lantai dua. Suasana di lantai dua sangat sepi. Setelah anak tangga teratas, aku menemukan dua pintu. Satu di sisi kiri. Satu lagi di sisi kanan.
"Kantor yang aneh," kataku dalam hati. Aku memutuskan untuk masuk ke pintu yang berada di sisi kanan. Pilihan tepat karena sepupuku alias Miss Optimistic ada di sana.
Ruangan kerja Miss Optimistic tidak sebesar ruangan di kantor lamanya yang berlokasi di Duren Tiga. Di ruangan itu terdapat empat meja kerja lengkap dengan komputer. Tidak banyak, tapi bisa membuatku iri. "Enaknya kalau bisa bekerja di kantor milik sendiri," pikirku.
Seketika, angan melayang. Membayangkan area terbuka yang ada di resto Mbah Jingkrak. Di area itu orang bisa makan di tempat yang beratapkan langit. "Sungguh menyenangkan bila aku bisa memiliki resto yang berlokasi di area terbuka. Sayang, harga tanah di Jakarta rata-rata mahal." Lamunanku terhenti karena Miss Optimistic tiba-tiba muncul di hadapanku dan berkata, "Gue shalat dulu ya. Abis itu kita ke bank, trus cabut ke bandara."
Perjalanan ke bandara dimulai setelah kami menyelesaikan urusan di dua bank yang ada di Mampang. Cukup melelahkan dan menyebalkan. Selain harus mengisi form transfer, saya juga harus mengantre. Kalau tidak salah, sudah dua bulan tidak berhubungan dg front officer bank. Untung saja, urusan antre-mengantre bisa selesai dalam waktu tidak lebih dari sejam sehingga kami bisa segera berangkat ke bandara.
Di sepanjang jalan, Miss Optimistic tak henti-henti bercerita. Dari mulai anak-anaknya yang menyenangkan, sampai rencana untuk mengisi libur lebaran. Bukan cuma itu. Ia mengeluhkan pula jalan tol yang menurutnya terlalu panjang sehingga membuatnya mengantuk. Sementara aku hanya mendengarkan sembari sesekali mengintip FB dan membujuknya untuk menemaniku berlibur. So far, ia tampak tertarik dan langsung menelepon suaminya untuk menceritakan rencana liburan tersebut.
Kami tiba di bandara sekitar pukul 16.35 WIB. Miss Honest belum tiba. Aku dan Miss Optimistic memutuskan untuk ngemil di salah satu gerai makanan. Pilihan jatuh pada bakso. Selesai makan, kami mengisi waktu dengan berpose 'gila'. Melelahkan, tapi menyenangkan. Jadi teringat sepuluh tahun lalu ketika aku, Miss Optimistic dan tiga temannya foto-foto di salah satu sudut Institut Teknologi Bandung yang asri.
Miss Honest tiba di bandara menjelang Maghrib. Ia datang bersama tiga anak, suami, ibu dan kakak tertuanya, Miss Crewet. Pertemuan berlangsung sekitar satu setengah jam. Setelah itu, bubar. Miss Honest masuk bersama anak-anak dan suami. Aku, Miss Optimistic, Miss Crewet dan ibunya pulang bersama-sama. Driver kami, Miss Optimistic, mengantarkan ibu dan Miss Crewet ke Bidakara. Setelah itu, kami makan nasi uduk di Sahardjo.
Cerita ttg lelaki dan pasir kembali kudengar saat makan bersama Miss Optimistic. Tapi, kali ini ada tambahannya. Ia bilang, dia bukan pencemburu. Suami mau pergi atau dinas ke manapun tak pernah dia larang. Ia juga mengaku cuek. Tapi, tak pernah lupa untuk menyetrika sendiri pakaian suaminya setiap pagi dan meletakkan nasi di atas piring suami. "Aktivitasnya ringan, Not. Cuma nyetrikain baju Mas I dan naroh nasi di piringnya. Tapi tnyt ampuh. Bikin Mas I jd tergantung ma gue. Dia tuh suka gak mau makan kalo gue belum naroh nasi di piringnya."
Satu lagi, Miss Optimistic juga mengaku cuek dalam hal pendapatan suaminya. Ia tidak pernah peduli berapa banyak uang yang diterima Mas I. "Bener loh, Not. Gue tuh gak pernah nanyain Mas I dapat uang berapa. Tapi, dia malah suka cerita tanpa gue tanya."
Saturday, 29 August 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment