SETIA SAJA TIDAK CUKUP-
KESETIAAN yang kujaga selama 3,5 tahun ternyata tidak cukup kuat untuk menjaga pasir-pasir itu tetap berada di kedua belah tanganku. Tampaknya, genggamanku terlampau erat. Akibatnya, pasir-pasir itu terlepas sedikit demi sedikit hingga akhirnya benar-benar habis.
Harus kuakui tak ada sesuatu yang istimewa ketika pertama kali bertemu dengannya. Kalau saja ia tidak pernah duduk di sebelah The Bright n Beautiful Woman, aku mungkin tak akan pernah menyadari keberadaannya.
Menurut The Tall n Smart Guy, The Bright n Beautiful Woman sangat famous. "Pokoknya gak ada satu cowok pun yang gak ngecengin dia." Begitu kata The Tall n Smart Guy, mantan kekasihku yang sekelas dengan The Bright n Beautiful Woman saat mereka kuliah di Kampus High Tech, Bandung. Aku menjuluki mantan kekasih dg nama The Tall n Smart Guy karena ia memiliki tinggi sekitar 180 sentimeter dan cerdas.
Sayang, kecerdasannya tidak terlihat pada IPK-nya karena menurut psikolog yang pernah menganalisis hasil tes IQ-nya, dia memilih jurusan yang tidak sesuai dengan minatnya. Tapi syukurlah, ia kemudian bekerja di bidang yang diminatinya.
Kabar terakhir yang kudengar darinya, ia sudah mendapatkan posisi bagus di perusahaannya. Menjadi wakil kepala divisi. Sekarang, dia telah melanglang buana di luar Indonesia. Ini menjadi catatan buatku. Kelak, aku akan menyarankan anak-anak untuk memilih jurusan yang sesuai minat mereka.
Cerita tentang ketenaran The Bright n Beautiful Woman telah lama kudengar. Tepatnya ketika aku belum menginjakkan kaki di Kampus Ganesha, Bandung. Itu sebabnya aku merasa antusias saat mengetahui ia sekelas denganku. Pada awal perkuliahan, aku kerap mencuri-curi pandang.
Kuamati gerak-geriknya untuk mencari tahu apa gerangan yang membuatnya menjadi idola kaum pria, termasuk mantanku. Rasa penasaran terus menggelembung. Kata mantan kekasihku, perempuan ini pernah menciumnya sebagai ucapan terima kasih.
"Imbal jasa karena telah menemani membeli softlens." Begitu katanya.
Belakangan, aku baru tahu kalau mantanku hanya mengarang cerita. Mungkin dia sebal karena aku dulu selalu menghindar.
Kalau soal penampilan, The Bright n Beautiful Woman sudah jelas menarik. Jika dilihat sepintas, mirip artis beken Titi Kamal. Rambut panjang,lurus dan berkilau, mengikuti tren saat itu. Kulitnya putih bersih layaknya mojang Priangan. Gaya berpakaiannya pun enak dilihat. Padahal ia kadang hanya mengenakan tanktop yang talinya diikat pada bagian leher, lalu dipadukan dengan cardigan hitam.
Berkat rasa penasaran itu, aku jadi mengenal sosok The Funny Man. Lelaki berusia 28 tahun yg sering duduk di sebelah The Bright n Beautiful Woman. Tempat tinggal mereka ternyata berdekatan. Pantas saja mereka tampak akrab. Rumah mereka tak jauh dari rumah ayahku.
Untuk mencapai kampus, kami hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit. Kulit lelaki itu putih bersih. Aku kadang iri dgn warna kulitnya yang beberapa tingkat lebih terang daripada kulitku. Tingginya sekitar 165 sentimeter dengan berat badan proporsional. Sebenarnya tidak masuk kriteria karena aku mendambakan pria dengan tinggi minimal 168 sentimeter. Di kelas, ia mudah dikenali karena selalu mengenakan topi dan kacamata berlensa oval yang sesuai dengan bentuk wajahnya.
Ada satu hal yang unik pada The Funny Man. Di usianya yang 28 tahun, belum sekalipun memiliki pacar. Sebenarnya, tidak sedikit pria yg tidak pernah pacaran sampai usia mereka mencapai akhir 20-an dan 30-an. Salah satunya adalah 'kakak tertua' kami, Mr. Horas Bah.
Namun, alasan yang ia ungkapkan lah yang membuatnya terlihat unik di mataku. "Gue gak pede. Kepala gue kan botak. Mana ada cewek yang mau sama gue." Ketika SD, ia tinggal bersama neneknya di sebuah kota kecil yang waktu tempuhnya sekitar dua jam dari kota Bandung.
Sementara adik semata wayangnya ikut dengan orangtua mereka yang tinggal di salah satu kota di Inggris. "SD gue di kampung. Gue dulu rankingnya dua besar terus. Temen-temen gue lucu. Mereka suka manggil gue Aden." Teman-temannya memang lucu. Tapi, mereka sering memanggilnya dengan sebutan Botak. "Gue benci dipanggil Botak. Bikin gue merasa gak PD sampe sekarang."
Cerita tentang masa lalunya membuatku sempat terheran-heran. Aku baru sadar kalau ejekan yang diterima pada masa kanak-kanak bisa berdampak sampai dewasa. Satu lagi catatan untukku. Aku akan mengajarkan anak-anak agar tidak mengejek teman-temannya. Kemudian, aku juga bercita-cita melatih anak-anakku agar tidak mudah sakit hati. "Hidup ini menyenangkan. Sayang bila rusak hanya karena ada hal-hal yang membuat kita sebal."
Memiliki kepala botak tampaknya masalah besar buat dia. Berbagai cara dilakukan untuk menumbuhkan rambutnya. Uang beratus-ratus ribu ia keluarkan untuk berobat di Klinik GS. "Gue tadi abis dari Klinik GS. Wuih, asyik banget. Dipijet kepalanya. Mana si mbaknya seksi. Pake kaos yang keliatan udelnya."
"Pantesan ada bau jamu. Ternyata sumbernya dari kepala kamu. Baunya pahit. Kepalamu pasti pahit juga," kataku sambil tertawa. Obrolan ngalor ngidul seperti itu bukan hal aneh di kelas kami. Apalagi kalau trio ngeres sudah kumpul di ruang sindikat. Trio ngeres itu adalah The Funny Man, The Ksatria Guy dan Mr Horas Bah. Lelaki-lelaki lucu. Walaupun ngeres, mereka tidak pernah memiliki kekasih.
Bisa jadi, rasa tidak pedenya lah yang membuatku tak tega untuk menolak ajakan menjadi kekasih Mr Funny Man.
"Tau gak, gue mecahin rekor. Nelpon elo sampe 1,5 jam. Padahal, gue kan paling gak betah ngobrol di telpon berlama-lama." Pengakuan tersebut ia lontarkan beberapa saat sebelum mengajak aku menjadi kekasihnya. Seingatku, dia memang tidak betah ngobrol di telepon. Aku pernah melihat dia berkali-kali mengganti posisi duduk saat Miss Kinclong meneleponnya.
Adik angkatan kami itu baru saja putus dengan kekasihnya dan ia membutuhkan teman curhat untuk mengatasi rasa kehilangannya. Aku memanggilnya Miss Kinclong karena ia kulit putihnya mulus dan bercahaya. Seperti kulit Vena Melinda. Ia belum lama kos di Bagus Rangin karena orangtuanya baru saja pindah ke Jakarta.
Sejak ia putus dengan kekasihnya, aku dan The Funny Man menjadi objek penderita. Ia sering memaksaku menginap di kosnya untuk mendengarkan ia curhat. Kalau aku tidak ada, The Funny Man akan menjadi korban berikutnya. Menurut The Funny Man, Miss Kinclong bisa meneleponnya sampai berjam-jam hingga kupingnya panas.
Aku resmi menjadi kekasih The Funny Man setelah kata "Siap" ala petugas upacara berkumandang. Jawaban atas pertanyaannya yang menurutku aneh. "Gue belum pernah pacaran. Gue pengen punya pacar. Kamu bersedia jadi pacar gue?"
Hari pertama pacaran terasa aneh. Sama-sama merasa seperti tidak pacaran. Sama-sama bingung mau ngapain. Sama-sama bertanya, "Emangnya kita udah pacaran, ya? Kirain kemaren cuma bercanda." Sampai saat ini, aku tidak mengetahui apa yang membuatku jatuh hati pada The Funny Man. Kalau dihitung-hitung, aku mungkin baru mulai suka setelah memintanya memutuskanku tiga bulan kemudian.
Aku ingat. Ketika aku mengucapkan kata putus, ia terisak. Lalu berkata, "Gue nyaman sama kamu."
Aku terhenyak. Kupikir dia tersiksa selama menjadi kekasihku. Setelah setahun tinggal di rumah papa yang di Cigadung, aku kembali menempati rumah yang di Ciwastra. Papa pensiun, lalu pindah ke Bojong, Jawa Barat. Rumah Cigadung ditempati tiga adik yang masih kuliah. Aku kembali ke Ciwastra karena jadwal kuliah sudah tidak padat. Ciwastra jauh dari pusat kota. Bila naik angkot dari Ciwastra ke kampus, aku bisa menghabiskan waktu sampai sejam. Jangankan The Funny Man.
Aku saja, yang tinggal di sana, seringkali merasa malas bila harus bepergian naik angkot. Apalagi, saat di Cigadung, aku terbiasa diantar dan kadang dijemput. Tapi, itu salah kami. Aku tidak berani mengendarai mobil maupun motor. Sedangkan Mr Funny Man malas belajar menyetir. Alhasil, aku ke mana-mana terpaksa naik angkot atau becak. Sementara dia lebih senang berjalan kaki.
Opel Blazer merah bernomor unik ia hibahkan kepada adiknya. Untuk jarak jauh, ia biasanya naik angkot atau pergi bersama supir. Hobinya berjalan kaki sempat membuatku terpana. Pada awal pacaran, ia mengajak berjalan kaki dari Jalan Setiabudi, Bandung ke Kampus Ganesha, lalu berlanjut hingga Jalan Dipati Ukur. Malam-malam. "Olahraga kok malem-malem?" pikirku saat itu.
Kadang aku berpikir ia tersiksa kalau harus naik angkot ke rumahku. Jika matahari sedang terik, ia biasanya malas ke luar rumah. Ujung-ujungnya, ia akan memintaku untuk mengunjunginya. Aku sih senang-senang saja. Bisa bertemu ibunya, Tante Cheerful yang cantik. Perempuan setengah baya yang berambut ikal dan tebal itu sangat ramah, baik serta murah senyum. Setiap kali aku bermain di rumahnya, ia pasti akan menyajikan aneka masakan buatannya.
Aku dan The Funny Man sering mengerjakan Tugas Akhir bersama. Ruang kerja kami terletak di ruang tamu atau kamarnya. Tante Cheerful biasanya bolak-balik ke kamar, membawakan aneka penganan atau minuman. Kalau Tante Cheerful sedang tidak ada di rumah, aku biasanya memasak sendiri cream soup Knorr kesukaanku dan The Funny Man. Aku memasak, dia mencuci panci bekas masak. Kegiatan itu menjadi rutinitas kami setiap hari, hingga wisuda.
Dua bulan setelah lulus, The Funny Man mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan advertising di Jakarta. Masa yang sulit karena aku kehilangan teman bercerita.
Teman-teman sekelas pindah ke luar kota satu persatu. Aku kesepian. Acara kongkow ramai-ramai tak ada lagi. Akibatnya, aku kerap menelepon The Funny Man. Minimal sehari sekali. Dari nadanya, dia tampak terganggu dengan celotehanku di telepon. Kupikir, aku memang membebaninya.
Dia mengaku tidak suka bekerja untuk orang. "Gue nggak suka kerja sama orang. Gue juga gak suka tinggal di Jakarta. Gue pengen bisnis di Bandung. Makanya, gue harus nabung." Lalu, dia menyebutkan gajinya, plus bonus-bonus yang didapat.
Tak ketinggalan, dia juga bilang harus menekan budget telepon karena ingin mengganti laptop lamanya dg Mr Apple yang keren. Kemudian, dia juga berencana membeli handphone O2 yang sedang tren saat itu. Setelah itu, aku kehilangan kontak. Ia mengganti SIM card tanpa memberi tahu nomor barunya.
Life must go on. Aku mengisi waktu dg mengikuti kursus memasak. Cita-citaku saat itu adalah berbisnis dan mengajar. Aku ingat, dosen yang mewawancaraiku saat mengikuti seleksi masuk Kampus Ganesha bertanya, "Mengapa kamu ingin melanjutkan kuliah di sini?" Kujawab, "Pertama, kampus ini berada di bawah nama Ganesa. Kedua, saya melanjutkan kuliah karena ingin menjadi dosen."
Alasan yang sama kusampaikan pada papaku. Semula, ia tidak setuju aku melanjutkan kuliah. "Kamu kan perempuan. Ngapain kuliah tinggi-tinggi? Apa tidak lebih baik mencari suami dulu, baru melanjutkan kuliah?" tanya papa dengan kalimat yang tertata. "Karena aku mau jadi dosen, papa."
Tekadku keras. Saat itu Indonesia sedang terkena krisis ekonomi. Aku melihat, dosen merupakan profesi yang tidak terimbas oleh krisis. Pertimbangan lain, dosen juga profesi yang tepat bagi perempuan. Terutama kalau dia sudah menikah. Alasan-alasan itu mendorongku untuk melanjutkan kuliah.
Kupelototi buku tabungan. "Uang hasil jualan masih ada."
Saat kuliah di Kampus Hijau, aku juga pernah bekerja. Hasil kerjaku ternyata masih tersimpan dengan baik. Ketika kucek buku tabungan lama, uang-uang pemberian Opung yang kusimpan sejak SD juga masih ada. Uang tersebut memang tidak cukup untuk membiayai kuliahku sampai selesai.
"Tapi, aku kan bisa berjualan lagi untuk menutupi kekurangannya," ujarku sambil tersenyum optimistis.
Opung yang bersuku batak itu sahabat engki. Ia menjadi anggota keluarga setelah menikahi salah seorang nenekku. Mama bilang, ketika aku kecil, Opung berencana menjodohkan aku dengan salah seorang anaknya. Tapi tampaknya tak jadi karena kami berbeda keyakinan. Opung adalah orang yang menarik. Ia bersama temannya, seorang bandar becak, mendirikan sebuah bank di Bandung.
Perusahaan itu terus berkembang dan sekarang dimiliki investor asing. Opung memang telah tiada. Namun, kebaikan dan sifat sederhananya masih kukenang. Berbekal uang pemberian Opung, aku mendaftar di kampus ganesha. Rupanya, aku membawa dompet yang salah sehingga uang yang kubawa kurang.
Untung saja, aku pergi bersama Mr Straight, teman lama yang sangat antusias masuk kampus ganesha. Ia meminjamkan uangnya. Hutang itu langsung kubayar setibanya di rumah. Mr Straight sangat baik. Selain meminjami uang, ia juga sering mengantar dan menjemputku. Kadang, kami latihan TOEFL bersama di rumahku. Mr Straight tidak lulus ujian masuk kampus ganesha.
Aku sedih. "Mr Straight pintar, tapi mengapa tidak lolos seleksi?" tanyaku dalam hati. Aku juga sedih kalau mengingat kebaikannya meminjami uang pendaftaran. Mr Straight akhirnya masuk kampus lain. Lalu, ia kembali mengikuti seleksi di kampus ganesha dan diterima pada angkatan berikutnya.
Lulus ujian, aku mengabari papaku. "Pa, aku jadi kuliah di kampus ganesha dong." Papa kaget. "Memangnya kamu punya uang?"
"Punya, donk," jawabku. Hati kecil berkata, "Mudah-mudahan papa bantuin aku bayar uang kuliah."
Papa kemudian diam. Lalu bertanya, "Berapa sih biayanya?"
"Kalau dicicil sekian. Kalau dilunasi sekian," jawabku.
Papa kembali bertanya,"Harus bayar kapan?" Aku menjawab sambil tersenyum, "Besok." "Nggak salah, tuh? Ya udah, kamu bayar besok. Ambil yg sekali bayar supaya nggak mahal."
****
Setelah kursus masak selesai, aku pindah ke Jakarta. Berkolaborasi dg sepupuku yg pandai membuat cake. Garasi kami ubah menjadi pabrik kue mini. Modal kami saat itu hanyalah oven gas milik sepupuku, serta dua kartu kredit. Satu kartu miliknya. Satu lagi milikku. Doaku saat itu hanya satu. Kalau ini memang jalanku, tolong beri kami pesanan yang banyak.
Saat itu bulan Ramadan. Kami harus memenuhi pesanan kue kering lebih dari 600 stoples, serta beberapa puluh cake. Untuk memenuhi pesanan, aku dan sepupuku bekerja shift.
Memiliki aktivitas yang bisa membuatku sibuk ternyata sangat berguna. Aku mulai melupakan Mr Funny Man sampai akhirnya dia menghubungiku kembali.
Pertemuan pertama kami terjadi di Plaza Senayan. Kebetulan, aku ada janji dengan seorang teman yang bernama Mr A. Perusahaan kakaknya membuka unit bisnis strategis (SBU) baru dan mereka memerlukan sistem operasi Windows. Ia meminta bantuanku.
"Ada, nih. Harganya US$2.200," kata sepupuku, Mr Saroeng.
Kuhubungi distributornya, lalu kutawar. Tawar menawar berhenti pada harga US$2.100. Temanku setuju dengan harga tersebut. Tanpa kuduga, distributor memberiku uang. "Jasa marketing," katanya. Uang tersebut kubagi dua dengan Mr Saroeng.
Pertemuan dg Mr A hanya berlangsung sebentar. Ia hanya mengambil barang, lalu pulang. Hubunganku dengan Mr Funny membaik. Belajar dari pengalaman, aku berusaha semaksimal mungkin agar tidak terlalu sering meneleponnya.
Strategi berhasil. Keadaan berbalik, ia meneleponku hampir setiap hari. Menjelang lebaran, kami pulang bareng. Tiket kereta kuperoleh gratis dari ibunya.
Lebaran usai. The Funny Man kembali ke Jakarta, aku tetap di Bandung. Aku mendapat pekerjaan sebagai dosen di salah satu akademi. Papa kembali meminta aku kursus di John Robert Power. "Apapun pekerjaanmu, kamu sebaiknya mengambil kursus kepribadian. Di sana, kamu bisa belajar etika menghadapi dan berbicara dengan orang." Saran tersebut kembali tidak terlaksana, sampai sekarang.
Tahun berganti. Teman kuliahku, Miss Andriani, menelepon. Ia menjadi dosen di kampus T, Jakarta. "Aku mau nikah, lalu pindah ke Bandung. Sekarang, aku lagi nyari orang untuk gantiin aku. Aku ingat, kamu dulu bercita-cita jadi dosen. Kamu mau nggak gantiin aku?" tanya Miss Andriani.
Tanpa berpikir panjang, tawaran kuambil dan aku pindah ke Jakarta.Roda kehidupan kembali berputar.
The Funny Man berkata, "Bekalku sudah cukup. Aku sudah belajar jadi creative designer dan art director. Aku mau kembali ke Bandung, membangun bisnis sendiri. Tapi, aku akan tetap mondar-mandir Bandung-Jakarta. Karena, klienku di Jakarta."
Aku menghela napas. "Terus aja bolak-balik. Bandung, Jakarta, Bandung. Tampaknya aku dan kamu memang tidak berjodoh," kataku dalam hati.
The Funny Man kembali ke Bandung. Hubungan kami kembali merenggang. Kami jarang bertemu. Dia sibuk mengembangkan mimpi serta mengurusi hobi barunya. Setiap kali kutelepon menanyakan kabarnya, ia akan menjawab. "Lagi bersihin kolam."
Jawaban lain, "Lagi ngasih makan ikan." Sejak ayahnya membeli akuarium sebesar lemari pakaian dua pintu, The Funny Man memang memiliki hobi baru. Memelihara ikan hias. (bersambung)
Saturday, 29 August 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment