-PASIR JUGA PUNYA RASA BERSALAH-
Senakal-nakalnya pasir, ia tetap punya hati dan rasa bersalah.
Suara bernada berat ke luar dari earphone handphoneku. "Kamu pasti nggak sadar kalau aku pernah serius mendekatimu," ujar pemilik suara bass tersebut.
Kedua alisku bertaut. Sementara pikiranku melayang, berusaha mengingat setiap ucapannya.
Ia melanjutkan perkataannya. "Benar kata adikmu. Aku bete karena ketika berniat serius, kamu malah cerita tentang The Logic White Guy. Akhirnya aku mundur karena takut ditolak."
Aku melompat dari tempat tidur agar dapat lebih berkonsentrasi mendengarkan ucapannya. "Tampaknya pembicaraan akan serius," kataku dalam hati.
"Bagaimana bisa!?" pekikku dalam hati.
Dunia kita sungguh berbeda. Kau dan perempuan-perempuan cantik bertubuh semampai. Itu anugerah yang engkau dapat dari profesimu. Sangat bertolak belakang dengan profesiku. Seperti bosku bilang, "Profesi kita menuntut kita berani tampil jelek. Tugas dadakan seringkali membuat kita tidak sempat berdandan."
Satu-satunya persamaan kita hanyalah kau dan aku memiliki mobilitas tinggi. "Mengapa takut ditolak?" kukejar ia dengan pertanyaan yang bermuara dari pernyataannya.
"Kupikir kamu tak bisa lepas dari The Logic White Guy."
Aku tertawa. "Kupikir kamu punya kekasih."
"Aku kan waktu itu bilang kalau hubungan dengan kekasihku sedang buruk dan kami tidak pernah bertemu. Jadi, kamu bisa masuk pada saat itu."
"What!? Pacaran dg kekasih orang? No way!" kataku dengan nada meninggi. Pipiku menggelembung, bibir mengerucut dan maju ke depan. Ekspresi andalan kalau aku tidak menyetujiui pendapat lawan bicara.
Lelaki bersuara bass itu kembali bertutur. "Yah, sayang. Padahal, kalau dulu jadian, kita pasti sudah menikah sekarang."
Aku menundukkan kepala. Bingung, tak tahu harus berkata apa. Ada sedikit perasaan kecewa yang menyeruak ketika mendengar kata menikah. Tapi, tak kubiarkan kekecewaan memancar dari nada suaraku.
Kulepas omonganku agar berkata jujur untuk hal yang lain. "Ah, aku nggak mau sama kamu. Duniamu begitu indah dan kamu dikelilingi makhluk-makhluk indah. Godaan yang menghampirimu sangat besar. Apa kamu yakin bisa menahan diri untuk tidak berbuat nakal?"
Aku tahu ia orang yang tidak mudah sakit hati. Jadi, aku bisa bebas mengungkapkan pendapatku. Aku menambahi ucapanku. "Lagipula, kamu kok mau sama aku? Aku kan once." Untuk beberapa hal, aku memang merasa terlalu polos. Aku juga seringkali mengungkapkan perasaanku dengan jujur. Sampai-sampai, dua sahabat yang kupanggil suhu menjulukiku Once.
Tidak seperti nada-nada sebelumnya yang disertai tawa jahil, suaranya terdengar serius kali ini. "Tapi aku tahu kamu bisa megang aku. Kamu ingat? Kamu selalu membebaskan aku pergi dengan perempuan lain."
Ia melanjutkan ucapannya, "Laki-laki kalau diberi kebebasan justru akan berusaha keras mengendalikan diri agar tidak berpaling pada perempuan lain."
Saturday, 29 August 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)