-PASIR JUGA PUNYA RASA BERSALAH-
Senakal-nakalnya pasir, ia tetap punya hati dan rasa bersalah.
Suara bernada berat ke luar dari earphone handphoneku. "Kamu pasti nggak sadar kalau aku pernah serius mendekatimu," ujar pemilik suara bass tersebut.
Kedua alisku bertaut. Sementara pikiranku melayang, berusaha mengingat setiap ucapannya.
Ia melanjutkan perkataannya. "Benar kata adikmu. Aku bete karena ketika berniat serius, kamu malah cerita tentang The Logic White Guy. Akhirnya aku mundur karena takut ditolak."
Aku melompat dari tempat tidur agar dapat lebih berkonsentrasi mendengarkan ucapannya. "Tampaknya pembicaraan akan serius," kataku dalam hati.
"Bagaimana bisa!?" pekikku dalam hati.
Dunia kita sungguh berbeda. Kau dan perempuan-perempuan cantik bertubuh semampai. Itu anugerah yang engkau dapat dari profesimu. Sangat bertolak belakang dengan profesiku. Seperti bosku bilang, "Profesi kita menuntut kita berani tampil jelek. Tugas dadakan seringkali membuat kita tidak sempat berdandan."
Satu-satunya persamaan kita hanyalah kau dan aku memiliki mobilitas tinggi. "Mengapa takut ditolak?" kukejar ia dengan pertanyaan yang bermuara dari pernyataannya.
"Kupikir kamu tak bisa lepas dari The Logic White Guy."
Aku tertawa. "Kupikir kamu punya kekasih."
"Aku kan waktu itu bilang kalau hubungan dengan kekasihku sedang buruk dan kami tidak pernah bertemu. Jadi, kamu bisa masuk pada saat itu."
"What!? Pacaran dg kekasih orang? No way!" kataku dengan nada meninggi. Pipiku menggelembung, bibir mengerucut dan maju ke depan. Ekspresi andalan kalau aku tidak menyetujiui pendapat lawan bicara.
Lelaki bersuara bass itu kembali bertutur. "Yah, sayang. Padahal, kalau dulu jadian, kita pasti sudah menikah sekarang."
Aku menundukkan kepala. Bingung, tak tahu harus berkata apa. Ada sedikit perasaan kecewa yang menyeruak ketika mendengar kata menikah. Tapi, tak kubiarkan kekecewaan memancar dari nada suaraku.
Kulepas omonganku agar berkata jujur untuk hal yang lain. "Ah, aku nggak mau sama kamu. Duniamu begitu indah dan kamu dikelilingi makhluk-makhluk indah. Godaan yang menghampirimu sangat besar. Apa kamu yakin bisa menahan diri untuk tidak berbuat nakal?"
Aku tahu ia orang yang tidak mudah sakit hati. Jadi, aku bisa bebas mengungkapkan pendapatku. Aku menambahi ucapanku. "Lagipula, kamu kok mau sama aku? Aku kan once." Untuk beberapa hal, aku memang merasa terlalu polos. Aku juga seringkali mengungkapkan perasaanku dengan jujur. Sampai-sampai, dua sahabat yang kupanggil suhu menjulukiku Once.
Tidak seperti nada-nada sebelumnya yang disertai tawa jahil, suaranya terdengar serius kali ini. "Tapi aku tahu kamu bisa megang aku. Kamu ingat? Kamu selalu membebaskan aku pergi dengan perempuan lain."
Ia melanjutkan ucapannya, "Laki-laki kalau diberi kebebasan justru akan berusaha keras mengendalikan diri agar tidak berpaling pada perempuan lain."
Saturday, 29 August 2009
Negeri Pasir (4)
SETIA SAJA TIDAK CUKUP-
KESETIAAN yang kujaga selama 3,5 tahun ternyata tidak cukup kuat untuk menjaga pasir-pasir itu tetap berada di kedua belah tanganku. Tampaknya, genggamanku terlampau erat. Akibatnya, pasir-pasir itu terlepas sedikit demi sedikit hingga akhirnya benar-benar habis.
Harus kuakui tak ada sesuatu yang istimewa ketika pertama kali bertemu dengannya. Kalau saja ia tidak pernah duduk di sebelah The Bright n Beautiful Woman, aku mungkin tak akan pernah menyadari keberadaannya.
Menurut The Tall n Smart Guy, The Bright n Beautiful Woman sangat famous. "Pokoknya gak ada satu cowok pun yang gak ngecengin dia." Begitu kata The Tall n Smart Guy, mantan kekasihku yang sekelas dengan The Bright n Beautiful Woman saat mereka kuliah di Kampus High Tech, Bandung. Aku menjuluki mantan kekasih dg nama The Tall n Smart Guy karena ia memiliki tinggi sekitar 180 sentimeter dan cerdas.
Sayang, kecerdasannya tidak terlihat pada IPK-nya karena menurut psikolog yang pernah menganalisis hasil tes IQ-nya, dia memilih jurusan yang tidak sesuai dengan minatnya. Tapi syukurlah, ia kemudian bekerja di bidang yang diminatinya.
Kabar terakhir yang kudengar darinya, ia sudah mendapatkan posisi bagus di perusahaannya. Menjadi wakil kepala divisi. Sekarang, dia telah melanglang buana di luar Indonesia. Ini menjadi catatan buatku. Kelak, aku akan menyarankan anak-anak untuk memilih jurusan yang sesuai minat mereka.
Cerita tentang ketenaran The Bright n Beautiful Woman telah lama kudengar. Tepatnya ketika aku belum menginjakkan kaki di Kampus Ganesha, Bandung. Itu sebabnya aku merasa antusias saat mengetahui ia sekelas denganku. Pada awal perkuliahan, aku kerap mencuri-curi pandang.
Kuamati gerak-geriknya untuk mencari tahu apa gerangan yang membuatnya menjadi idola kaum pria, termasuk mantanku. Rasa penasaran terus menggelembung. Kata mantan kekasihku, perempuan ini pernah menciumnya sebagai ucapan terima kasih.
"Imbal jasa karena telah menemani membeli softlens." Begitu katanya.
Belakangan, aku baru tahu kalau mantanku hanya mengarang cerita. Mungkin dia sebal karena aku dulu selalu menghindar.
Kalau soal penampilan, The Bright n Beautiful Woman sudah jelas menarik. Jika dilihat sepintas, mirip artis beken Titi Kamal. Rambut panjang,lurus dan berkilau, mengikuti tren saat itu. Kulitnya putih bersih layaknya mojang Priangan. Gaya berpakaiannya pun enak dilihat. Padahal ia kadang hanya mengenakan tanktop yang talinya diikat pada bagian leher, lalu dipadukan dengan cardigan hitam.
Berkat rasa penasaran itu, aku jadi mengenal sosok The Funny Man. Lelaki berusia 28 tahun yg sering duduk di sebelah The Bright n Beautiful Woman. Tempat tinggal mereka ternyata berdekatan. Pantas saja mereka tampak akrab. Rumah mereka tak jauh dari rumah ayahku.
Untuk mencapai kampus, kami hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit. Kulit lelaki itu putih bersih. Aku kadang iri dgn warna kulitnya yang beberapa tingkat lebih terang daripada kulitku. Tingginya sekitar 165 sentimeter dengan berat badan proporsional. Sebenarnya tidak masuk kriteria karena aku mendambakan pria dengan tinggi minimal 168 sentimeter. Di kelas, ia mudah dikenali karena selalu mengenakan topi dan kacamata berlensa oval yang sesuai dengan bentuk wajahnya.
Ada satu hal yang unik pada The Funny Man. Di usianya yang 28 tahun, belum sekalipun memiliki pacar. Sebenarnya, tidak sedikit pria yg tidak pernah pacaran sampai usia mereka mencapai akhir 20-an dan 30-an. Salah satunya adalah 'kakak tertua' kami, Mr. Horas Bah.
Namun, alasan yang ia ungkapkan lah yang membuatnya terlihat unik di mataku. "Gue gak pede. Kepala gue kan botak. Mana ada cewek yang mau sama gue." Ketika SD, ia tinggal bersama neneknya di sebuah kota kecil yang waktu tempuhnya sekitar dua jam dari kota Bandung.
Sementara adik semata wayangnya ikut dengan orangtua mereka yang tinggal di salah satu kota di Inggris. "SD gue di kampung. Gue dulu rankingnya dua besar terus. Temen-temen gue lucu. Mereka suka manggil gue Aden." Teman-temannya memang lucu. Tapi, mereka sering memanggilnya dengan sebutan Botak. "Gue benci dipanggil Botak. Bikin gue merasa gak PD sampe sekarang."
Cerita tentang masa lalunya membuatku sempat terheran-heran. Aku baru sadar kalau ejekan yang diterima pada masa kanak-kanak bisa berdampak sampai dewasa. Satu lagi catatan untukku. Aku akan mengajarkan anak-anak agar tidak mengejek teman-temannya. Kemudian, aku juga bercita-cita melatih anak-anakku agar tidak mudah sakit hati. "Hidup ini menyenangkan. Sayang bila rusak hanya karena ada hal-hal yang membuat kita sebal."
Memiliki kepala botak tampaknya masalah besar buat dia. Berbagai cara dilakukan untuk menumbuhkan rambutnya. Uang beratus-ratus ribu ia keluarkan untuk berobat di Klinik GS. "Gue tadi abis dari Klinik GS. Wuih, asyik banget. Dipijet kepalanya. Mana si mbaknya seksi. Pake kaos yang keliatan udelnya."
"Pantesan ada bau jamu. Ternyata sumbernya dari kepala kamu. Baunya pahit. Kepalamu pasti pahit juga," kataku sambil tertawa. Obrolan ngalor ngidul seperti itu bukan hal aneh di kelas kami. Apalagi kalau trio ngeres sudah kumpul di ruang sindikat. Trio ngeres itu adalah The Funny Man, The Ksatria Guy dan Mr Horas Bah. Lelaki-lelaki lucu. Walaupun ngeres, mereka tidak pernah memiliki kekasih.
Bisa jadi, rasa tidak pedenya lah yang membuatku tak tega untuk menolak ajakan menjadi kekasih Mr Funny Man.
"Tau gak, gue mecahin rekor. Nelpon elo sampe 1,5 jam. Padahal, gue kan paling gak betah ngobrol di telpon berlama-lama." Pengakuan tersebut ia lontarkan beberapa saat sebelum mengajak aku menjadi kekasihnya. Seingatku, dia memang tidak betah ngobrol di telepon. Aku pernah melihat dia berkali-kali mengganti posisi duduk saat Miss Kinclong meneleponnya.
Adik angkatan kami itu baru saja putus dengan kekasihnya dan ia membutuhkan teman curhat untuk mengatasi rasa kehilangannya. Aku memanggilnya Miss Kinclong karena ia kulit putihnya mulus dan bercahaya. Seperti kulit Vena Melinda. Ia belum lama kos di Bagus Rangin karena orangtuanya baru saja pindah ke Jakarta.
Sejak ia putus dengan kekasihnya, aku dan The Funny Man menjadi objek penderita. Ia sering memaksaku menginap di kosnya untuk mendengarkan ia curhat. Kalau aku tidak ada, The Funny Man akan menjadi korban berikutnya. Menurut The Funny Man, Miss Kinclong bisa meneleponnya sampai berjam-jam hingga kupingnya panas.
Aku resmi menjadi kekasih The Funny Man setelah kata "Siap" ala petugas upacara berkumandang. Jawaban atas pertanyaannya yang menurutku aneh. "Gue belum pernah pacaran. Gue pengen punya pacar. Kamu bersedia jadi pacar gue?"
Hari pertama pacaran terasa aneh. Sama-sama merasa seperti tidak pacaran. Sama-sama bingung mau ngapain. Sama-sama bertanya, "Emangnya kita udah pacaran, ya? Kirain kemaren cuma bercanda." Sampai saat ini, aku tidak mengetahui apa yang membuatku jatuh hati pada The Funny Man. Kalau dihitung-hitung, aku mungkin baru mulai suka setelah memintanya memutuskanku tiga bulan kemudian.
Aku ingat. Ketika aku mengucapkan kata putus, ia terisak. Lalu berkata, "Gue nyaman sama kamu."
Aku terhenyak. Kupikir dia tersiksa selama menjadi kekasihku. Setelah setahun tinggal di rumah papa yang di Cigadung, aku kembali menempati rumah yang di Ciwastra. Papa pensiun, lalu pindah ke Bojong, Jawa Barat. Rumah Cigadung ditempati tiga adik yang masih kuliah. Aku kembali ke Ciwastra karena jadwal kuliah sudah tidak padat. Ciwastra jauh dari pusat kota. Bila naik angkot dari Ciwastra ke kampus, aku bisa menghabiskan waktu sampai sejam. Jangankan The Funny Man.
Aku saja, yang tinggal di sana, seringkali merasa malas bila harus bepergian naik angkot. Apalagi, saat di Cigadung, aku terbiasa diantar dan kadang dijemput. Tapi, itu salah kami. Aku tidak berani mengendarai mobil maupun motor. Sedangkan Mr Funny Man malas belajar menyetir. Alhasil, aku ke mana-mana terpaksa naik angkot atau becak. Sementara dia lebih senang berjalan kaki.
Opel Blazer merah bernomor unik ia hibahkan kepada adiknya. Untuk jarak jauh, ia biasanya naik angkot atau pergi bersama supir. Hobinya berjalan kaki sempat membuatku terpana. Pada awal pacaran, ia mengajak berjalan kaki dari Jalan Setiabudi, Bandung ke Kampus Ganesha, lalu berlanjut hingga Jalan Dipati Ukur. Malam-malam. "Olahraga kok malem-malem?" pikirku saat itu.
Kadang aku berpikir ia tersiksa kalau harus naik angkot ke rumahku. Jika matahari sedang terik, ia biasanya malas ke luar rumah. Ujung-ujungnya, ia akan memintaku untuk mengunjunginya. Aku sih senang-senang saja. Bisa bertemu ibunya, Tante Cheerful yang cantik. Perempuan setengah baya yang berambut ikal dan tebal itu sangat ramah, baik serta murah senyum. Setiap kali aku bermain di rumahnya, ia pasti akan menyajikan aneka masakan buatannya.
Aku dan The Funny Man sering mengerjakan Tugas Akhir bersama. Ruang kerja kami terletak di ruang tamu atau kamarnya. Tante Cheerful biasanya bolak-balik ke kamar, membawakan aneka penganan atau minuman. Kalau Tante Cheerful sedang tidak ada di rumah, aku biasanya memasak sendiri cream soup Knorr kesukaanku dan The Funny Man. Aku memasak, dia mencuci panci bekas masak. Kegiatan itu menjadi rutinitas kami setiap hari, hingga wisuda.
Dua bulan setelah lulus, The Funny Man mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan advertising di Jakarta. Masa yang sulit karena aku kehilangan teman bercerita.
Teman-teman sekelas pindah ke luar kota satu persatu. Aku kesepian. Acara kongkow ramai-ramai tak ada lagi. Akibatnya, aku kerap menelepon The Funny Man. Minimal sehari sekali. Dari nadanya, dia tampak terganggu dengan celotehanku di telepon. Kupikir, aku memang membebaninya.
Dia mengaku tidak suka bekerja untuk orang. "Gue nggak suka kerja sama orang. Gue juga gak suka tinggal di Jakarta. Gue pengen bisnis di Bandung. Makanya, gue harus nabung." Lalu, dia menyebutkan gajinya, plus bonus-bonus yang didapat.
Tak ketinggalan, dia juga bilang harus menekan budget telepon karena ingin mengganti laptop lamanya dg Mr Apple yang keren. Kemudian, dia juga berencana membeli handphone O2 yang sedang tren saat itu. Setelah itu, aku kehilangan kontak. Ia mengganti SIM card tanpa memberi tahu nomor barunya.
Life must go on. Aku mengisi waktu dg mengikuti kursus memasak. Cita-citaku saat itu adalah berbisnis dan mengajar. Aku ingat, dosen yang mewawancaraiku saat mengikuti seleksi masuk Kampus Ganesha bertanya, "Mengapa kamu ingin melanjutkan kuliah di sini?" Kujawab, "Pertama, kampus ini berada di bawah nama Ganesa. Kedua, saya melanjutkan kuliah karena ingin menjadi dosen."
Alasan yang sama kusampaikan pada papaku. Semula, ia tidak setuju aku melanjutkan kuliah. "Kamu kan perempuan. Ngapain kuliah tinggi-tinggi? Apa tidak lebih baik mencari suami dulu, baru melanjutkan kuliah?" tanya papa dengan kalimat yang tertata. "Karena aku mau jadi dosen, papa."
Tekadku keras. Saat itu Indonesia sedang terkena krisis ekonomi. Aku melihat, dosen merupakan profesi yang tidak terimbas oleh krisis. Pertimbangan lain, dosen juga profesi yang tepat bagi perempuan. Terutama kalau dia sudah menikah. Alasan-alasan itu mendorongku untuk melanjutkan kuliah.
Kupelototi buku tabungan. "Uang hasil jualan masih ada."
Saat kuliah di Kampus Hijau, aku juga pernah bekerja. Hasil kerjaku ternyata masih tersimpan dengan baik. Ketika kucek buku tabungan lama, uang-uang pemberian Opung yang kusimpan sejak SD juga masih ada. Uang tersebut memang tidak cukup untuk membiayai kuliahku sampai selesai.
"Tapi, aku kan bisa berjualan lagi untuk menutupi kekurangannya," ujarku sambil tersenyum optimistis.
Opung yang bersuku batak itu sahabat engki. Ia menjadi anggota keluarga setelah menikahi salah seorang nenekku. Mama bilang, ketika aku kecil, Opung berencana menjodohkan aku dengan salah seorang anaknya. Tapi tampaknya tak jadi karena kami berbeda keyakinan. Opung adalah orang yang menarik. Ia bersama temannya, seorang bandar becak, mendirikan sebuah bank di Bandung.
Perusahaan itu terus berkembang dan sekarang dimiliki investor asing. Opung memang telah tiada. Namun, kebaikan dan sifat sederhananya masih kukenang. Berbekal uang pemberian Opung, aku mendaftar di kampus ganesha. Rupanya, aku membawa dompet yang salah sehingga uang yang kubawa kurang.
Untung saja, aku pergi bersama Mr Straight, teman lama yang sangat antusias masuk kampus ganesha. Ia meminjamkan uangnya. Hutang itu langsung kubayar setibanya di rumah. Mr Straight sangat baik. Selain meminjami uang, ia juga sering mengantar dan menjemputku. Kadang, kami latihan TOEFL bersama di rumahku. Mr Straight tidak lulus ujian masuk kampus ganesha.
Aku sedih. "Mr Straight pintar, tapi mengapa tidak lolos seleksi?" tanyaku dalam hati. Aku juga sedih kalau mengingat kebaikannya meminjami uang pendaftaran. Mr Straight akhirnya masuk kampus lain. Lalu, ia kembali mengikuti seleksi di kampus ganesha dan diterima pada angkatan berikutnya.
Lulus ujian, aku mengabari papaku. "Pa, aku jadi kuliah di kampus ganesha dong." Papa kaget. "Memangnya kamu punya uang?"
"Punya, donk," jawabku. Hati kecil berkata, "Mudah-mudahan papa bantuin aku bayar uang kuliah."
Papa kemudian diam. Lalu bertanya, "Berapa sih biayanya?"
"Kalau dicicil sekian. Kalau dilunasi sekian," jawabku.
Papa kembali bertanya,"Harus bayar kapan?" Aku menjawab sambil tersenyum, "Besok." "Nggak salah, tuh? Ya udah, kamu bayar besok. Ambil yg sekali bayar supaya nggak mahal."
****
Setelah kursus masak selesai, aku pindah ke Jakarta. Berkolaborasi dg sepupuku yg pandai membuat cake. Garasi kami ubah menjadi pabrik kue mini. Modal kami saat itu hanyalah oven gas milik sepupuku, serta dua kartu kredit. Satu kartu miliknya. Satu lagi milikku. Doaku saat itu hanya satu. Kalau ini memang jalanku, tolong beri kami pesanan yang banyak.
Saat itu bulan Ramadan. Kami harus memenuhi pesanan kue kering lebih dari 600 stoples, serta beberapa puluh cake. Untuk memenuhi pesanan, aku dan sepupuku bekerja shift.
Memiliki aktivitas yang bisa membuatku sibuk ternyata sangat berguna. Aku mulai melupakan Mr Funny Man sampai akhirnya dia menghubungiku kembali.
Pertemuan pertama kami terjadi di Plaza Senayan. Kebetulan, aku ada janji dengan seorang teman yang bernama Mr A. Perusahaan kakaknya membuka unit bisnis strategis (SBU) baru dan mereka memerlukan sistem operasi Windows. Ia meminta bantuanku.
"Ada, nih. Harganya US$2.200," kata sepupuku, Mr Saroeng.
Kuhubungi distributornya, lalu kutawar. Tawar menawar berhenti pada harga US$2.100. Temanku setuju dengan harga tersebut. Tanpa kuduga, distributor memberiku uang. "Jasa marketing," katanya. Uang tersebut kubagi dua dengan Mr Saroeng.
Pertemuan dg Mr A hanya berlangsung sebentar. Ia hanya mengambil barang, lalu pulang. Hubunganku dengan Mr Funny membaik. Belajar dari pengalaman, aku berusaha semaksimal mungkin agar tidak terlalu sering meneleponnya.
Strategi berhasil. Keadaan berbalik, ia meneleponku hampir setiap hari. Menjelang lebaran, kami pulang bareng. Tiket kereta kuperoleh gratis dari ibunya.
Lebaran usai. The Funny Man kembali ke Jakarta, aku tetap di Bandung. Aku mendapat pekerjaan sebagai dosen di salah satu akademi. Papa kembali meminta aku kursus di John Robert Power. "Apapun pekerjaanmu, kamu sebaiknya mengambil kursus kepribadian. Di sana, kamu bisa belajar etika menghadapi dan berbicara dengan orang." Saran tersebut kembali tidak terlaksana, sampai sekarang.
Tahun berganti. Teman kuliahku, Miss Andriani, menelepon. Ia menjadi dosen di kampus T, Jakarta. "Aku mau nikah, lalu pindah ke Bandung. Sekarang, aku lagi nyari orang untuk gantiin aku. Aku ingat, kamu dulu bercita-cita jadi dosen. Kamu mau nggak gantiin aku?" tanya Miss Andriani.
Tanpa berpikir panjang, tawaran kuambil dan aku pindah ke Jakarta.Roda kehidupan kembali berputar.
The Funny Man berkata, "Bekalku sudah cukup. Aku sudah belajar jadi creative designer dan art director. Aku mau kembali ke Bandung, membangun bisnis sendiri. Tapi, aku akan tetap mondar-mandir Bandung-Jakarta. Karena, klienku di Jakarta."
Aku menghela napas. "Terus aja bolak-balik. Bandung, Jakarta, Bandung. Tampaknya aku dan kamu memang tidak berjodoh," kataku dalam hati.
The Funny Man kembali ke Bandung. Hubungan kami kembali merenggang. Kami jarang bertemu. Dia sibuk mengembangkan mimpi serta mengurusi hobi barunya. Setiap kali kutelepon menanyakan kabarnya, ia akan menjawab. "Lagi bersihin kolam."
Jawaban lain, "Lagi ngasih makan ikan." Sejak ayahnya membeli akuarium sebesar lemari pakaian dua pintu, The Funny Man memang memiliki hobi baru. Memelihara ikan hias. (bersambung)
KESETIAAN yang kujaga selama 3,5 tahun ternyata tidak cukup kuat untuk menjaga pasir-pasir itu tetap berada di kedua belah tanganku. Tampaknya, genggamanku terlampau erat. Akibatnya, pasir-pasir itu terlepas sedikit demi sedikit hingga akhirnya benar-benar habis.
Harus kuakui tak ada sesuatu yang istimewa ketika pertama kali bertemu dengannya. Kalau saja ia tidak pernah duduk di sebelah The Bright n Beautiful Woman, aku mungkin tak akan pernah menyadari keberadaannya.
Menurut The Tall n Smart Guy, The Bright n Beautiful Woman sangat famous. "Pokoknya gak ada satu cowok pun yang gak ngecengin dia." Begitu kata The Tall n Smart Guy, mantan kekasihku yang sekelas dengan The Bright n Beautiful Woman saat mereka kuliah di Kampus High Tech, Bandung. Aku menjuluki mantan kekasih dg nama The Tall n Smart Guy karena ia memiliki tinggi sekitar 180 sentimeter dan cerdas.
Sayang, kecerdasannya tidak terlihat pada IPK-nya karena menurut psikolog yang pernah menganalisis hasil tes IQ-nya, dia memilih jurusan yang tidak sesuai dengan minatnya. Tapi syukurlah, ia kemudian bekerja di bidang yang diminatinya.
Kabar terakhir yang kudengar darinya, ia sudah mendapatkan posisi bagus di perusahaannya. Menjadi wakil kepala divisi. Sekarang, dia telah melanglang buana di luar Indonesia. Ini menjadi catatan buatku. Kelak, aku akan menyarankan anak-anak untuk memilih jurusan yang sesuai minat mereka.
Cerita tentang ketenaran The Bright n Beautiful Woman telah lama kudengar. Tepatnya ketika aku belum menginjakkan kaki di Kampus Ganesha, Bandung. Itu sebabnya aku merasa antusias saat mengetahui ia sekelas denganku. Pada awal perkuliahan, aku kerap mencuri-curi pandang.
Kuamati gerak-geriknya untuk mencari tahu apa gerangan yang membuatnya menjadi idola kaum pria, termasuk mantanku. Rasa penasaran terus menggelembung. Kata mantan kekasihku, perempuan ini pernah menciumnya sebagai ucapan terima kasih.
"Imbal jasa karena telah menemani membeli softlens." Begitu katanya.
Belakangan, aku baru tahu kalau mantanku hanya mengarang cerita. Mungkin dia sebal karena aku dulu selalu menghindar.
Kalau soal penampilan, The Bright n Beautiful Woman sudah jelas menarik. Jika dilihat sepintas, mirip artis beken Titi Kamal. Rambut panjang,lurus dan berkilau, mengikuti tren saat itu. Kulitnya putih bersih layaknya mojang Priangan. Gaya berpakaiannya pun enak dilihat. Padahal ia kadang hanya mengenakan tanktop yang talinya diikat pada bagian leher, lalu dipadukan dengan cardigan hitam.
Berkat rasa penasaran itu, aku jadi mengenal sosok The Funny Man. Lelaki berusia 28 tahun yg sering duduk di sebelah The Bright n Beautiful Woman. Tempat tinggal mereka ternyata berdekatan. Pantas saja mereka tampak akrab. Rumah mereka tak jauh dari rumah ayahku.
Untuk mencapai kampus, kami hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit. Kulit lelaki itu putih bersih. Aku kadang iri dgn warna kulitnya yang beberapa tingkat lebih terang daripada kulitku. Tingginya sekitar 165 sentimeter dengan berat badan proporsional. Sebenarnya tidak masuk kriteria karena aku mendambakan pria dengan tinggi minimal 168 sentimeter. Di kelas, ia mudah dikenali karena selalu mengenakan topi dan kacamata berlensa oval yang sesuai dengan bentuk wajahnya.
Ada satu hal yang unik pada The Funny Man. Di usianya yang 28 tahun, belum sekalipun memiliki pacar. Sebenarnya, tidak sedikit pria yg tidak pernah pacaran sampai usia mereka mencapai akhir 20-an dan 30-an. Salah satunya adalah 'kakak tertua' kami, Mr. Horas Bah.
Namun, alasan yang ia ungkapkan lah yang membuatnya terlihat unik di mataku. "Gue gak pede. Kepala gue kan botak. Mana ada cewek yang mau sama gue." Ketika SD, ia tinggal bersama neneknya di sebuah kota kecil yang waktu tempuhnya sekitar dua jam dari kota Bandung.
Sementara adik semata wayangnya ikut dengan orangtua mereka yang tinggal di salah satu kota di Inggris. "SD gue di kampung. Gue dulu rankingnya dua besar terus. Temen-temen gue lucu. Mereka suka manggil gue Aden." Teman-temannya memang lucu. Tapi, mereka sering memanggilnya dengan sebutan Botak. "Gue benci dipanggil Botak. Bikin gue merasa gak PD sampe sekarang."
Cerita tentang masa lalunya membuatku sempat terheran-heran. Aku baru sadar kalau ejekan yang diterima pada masa kanak-kanak bisa berdampak sampai dewasa. Satu lagi catatan untukku. Aku akan mengajarkan anak-anak agar tidak mengejek teman-temannya. Kemudian, aku juga bercita-cita melatih anak-anakku agar tidak mudah sakit hati. "Hidup ini menyenangkan. Sayang bila rusak hanya karena ada hal-hal yang membuat kita sebal."
Memiliki kepala botak tampaknya masalah besar buat dia. Berbagai cara dilakukan untuk menumbuhkan rambutnya. Uang beratus-ratus ribu ia keluarkan untuk berobat di Klinik GS. "Gue tadi abis dari Klinik GS. Wuih, asyik banget. Dipijet kepalanya. Mana si mbaknya seksi. Pake kaos yang keliatan udelnya."
"Pantesan ada bau jamu. Ternyata sumbernya dari kepala kamu. Baunya pahit. Kepalamu pasti pahit juga," kataku sambil tertawa. Obrolan ngalor ngidul seperti itu bukan hal aneh di kelas kami. Apalagi kalau trio ngeres sudah kumpul di ruang sindikat. Trio ngeres itu adalah The Funny Man, The Ksatria Guy dan Mr Horas Bah. Lelaki-lelaki lucu. Walaupun ngeres, mereka tidak pernah memiliki kekasih.
Bisa jadi, rasa tidak pedenya lah yang membuatku tak tega untuk menolak ajakan menjadi kekasih Mr Funny Man.
"Tau gak, gue mecahin rekor. Nelpon elo sampe 1,5 jam. Padahal, gue kan paling gak betah ngobrol di telpon berlama-lama." Pengakuan tersebut ia lontarkan beberapa saat sebelum mengajak aku menjadi kekasihnya. Seingatku, dia memang tidak betah ngobrol di telepon. Aku pernah melihat dia berkali-kali mengganti posisi duduk saat Miss Kinclong meneleponnya.
Adik angkatan kami itu baru saja putus dengan kekasihnya dan ia membutuhkan teman curhat untuk mengatasi rasa kehilangannya. Aku memanggilnya Miss Kinclong karena ia kulit putihnya mulus dan bercahaya. Seperti kulit Vena Melinda. Ia belum lama kos di Bagus Rangin karena orangtuanya baru saja pindah ke Jakarta.
Sejak ia putus dengan kekasihnya, aku dan The Funny Man menjadi objek penderita. Ia sering memaksaku menginap di kosnya untuk mendengarkan ia curhat. Kalau aku tidak ada, The Funny Man akan menjadi korban berikutnya. Menurut The Funny Man, Miss Kinclong bisa meneleponnya sampai berjam-jam hingga kupingnya panas.
Aku resmi menjadi kekasih The Funny Man setelah kata "Siap" ala petugas upacara berkumandang. Jawaban atas pertanyaannya yang menurutku aneh. "Gue belum pernah pacaran. Gue pengen punya pacar. Kamu bersedia jadi pacar gue?"
Hari pertama pacaran terasa aneh. Sama-sama merasa seperti tidak pacaran. Sama-sama bingung mau ngapain. Sama-sama bertanya, "Emangnya kita udah pacaran, ya? Kirain kemaren cuma bercanda." Sampai saat ini, aku tidak mengetahui apa yang membuatku jatuh hati pada The Funny Man. Kalau dihitung-hitung, aku mungkin baru mulai suka setelah memintanya memutuskanku tiga bulan kemudian.
Aku ingat. Ketika aku mengucapkan kata putus, ia terisak. Lalu berkata, "Gue nyaman sama kamu."
Aku terhenyak. Kupikir dia tersiksa selama menjadi kekasihku. Setelah setahun tinggal di rumah papa yang di Cigadung, aku kembali menempati rumah yang di Ciwastra. Papa pensiun, lalu pindah ke Bojong, Jawa Barat. Rumah Cigadung ditempati tiga adik yang masih kuliah. Aku kembali ke Ciwastra karena jadwal kuliah sudah tidak padat. Ciwastra jauh dari pusat kota. Bila naik angkot dari Ciwastra ke kampus, aku bisa menghabiskan waktu sampai sejam. Jangankan The Funny Man.
Aku saja, yang tinggal di sana, seringkali merasa malas bila harus bepergian naik angkot. Apalagi, saat di Cigadung, aku terbiasa diantar dan kadang dijemput. Tapi, itu salah kami. Aku tidak berani mengendarai mobil maupun motor. Sedangkan Mr Funny Man malas belajar menyetir. Alhasil, aku ke mana-mana terpaksa naik angkot atau becak. Sementara dia lebih senang berjalan kaki.
Opel Blazer merah bernomor unik ia hibahkan kepada adiknya. Untuk jarak jauh, ia biasanya naik angkot atau pergi bersama supir. Hobinya berjalan kaki sempat membuatku terpana. Pada awal pacaran, ia mengajak berjalan kaki dari Jalan Setiabudi, Bandung ke Kampus Ganesha, lalu berlanjut hingga Jalan Dipati Ukur. Malam-malam. "Olahraga kok malem-malem?" pikirku saat itu.
Kadang aku berpikir ia tersiksa kalau harus naik angkot ke rumahku. Jika matahari sedang terik, ia biasanya malas ke luar rumah. Ujung-ujungnya, ia akan memintaku untuk mengunjunginya. Aku sih senang-senang saja. Bisa bertemu ibunya, Tante Cheerful yang cantik. Perempuan setengah baya yang berambut ikal dan tebal itu sangat ramah, baik serta murah senyum. Setiap kali aku bermain di rumahnya, ia pasti akan menyajikan aneka masakan buatannya.
Aku dan The Funny Man sering mengerjakan Tugas Akhir bersama. Ruang kerja kami terletak di ruang tamu atau kamarnya. Tante Cheerful biasanya bolak-balik ke kamar, membawakan aneka penganan atau minuman. Kalau Tante Cheerful sedang tidak ada di rumah, aku biasanya memasak sendiri cream soup Knorr kesukaanku dan The Funny Man. Aku memasak, dia mencuci panci bekas masak. Kegiatan itu menjadi rutinitas kami setiap hari, hingga wisuda.
Dua bulan setelah lulus, The Funny Man mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan advertising di Jakarta. Masa yang sulit karena aku kehilangan teman bercerita.
Teman-teman sekelas pindah ke luar kota satu persatu. Aku kesepian. Acara kongkow ramai-ramai tak ada lagi. Akibatnya, aku kerap menelepon The Funny Man. Minimal sehari sekali. Dari nadanya, dia tampak terganggu dengan celotehanku di telepon. Kupikir, aku memang membebaninya.
Dia mengaku tidak suka bekerja untuk orang. "Gue nggak suka kerja sama orang. Gue juga gak suka tinggal di Jakarta. Gue pengen bisnis di Bandung. Makanya, gue harus nabung." Lalu, dia menyebutkan gajinya, plus bonus-bonus yang didapat.
Tak ketinggalan, dia juga bilang harus menekan budget telepon karena ingin mengganti laptop lamanya dg Mr Apple yang keren. Kemudian, dia juga berencana membeli handphone O2 yang sedang tren saat itu. Setelah itu, aku kehilangan kontak. Ia mengganti SIM card tanpa memberi tahu nomor barunya.
Life must go on. Aku mengisi waktu dg mengikuti kursus memasak. Cita-citaku saat itu adalah berbisnis dan mengajar. Aku ingat, dosen yang mewawancaraiku saat mengikuti seleksi masuk Kampus Ganesha bertanya, "Mengapa kamu ingin melanjutkan kuliah di sini?" Kujawab, "Pertama, kampus ini berada di bawah nama Ganesa. Kedua, saya melanjutkan kuliah karena ingin menjadi dosen."
Alasan yang sama kusampaikan pada papaku. Semula, ia tidak setuju aku melanjutkan kuliah. "Kamu kan perempuan. Ngapain kuliah tinggi-tinggi? Apa tidak lebih baik mencari suami dulu, baru melanjutkan kuliah?" tanya papa dengan kalimat yang tertata. "Karena aku mau jadi dosen, papa."
Tekadku keras. Saat itu Indonesia sedang terkena krisis ekonomi. Aku melihat, dosen merupakan profesi yang tidak terimbas oleh krisis. Pertimbangan lain, dosen juga profesi yang tepat bagi perempuan. Terutama kalau dia sudah menikah. Alasan-alasan itu mendorongku untuk melanjutkan kuliah.
Kupelototi buku tabungan. "Uang hasil jualan masih ada."
Saat kuliah di Kampus Hijau, aku juga pernah bekerja. Hasil kerjaku ternyata masih tersimpan dengan baik. Ketika kucek buku tabungan lama, uang-uang pemberian Opung yang kusimpan sejak SD juga masih ada. Uang tersebut memang tidak cukup untuk membiayai kuliahku sampai selesai.
"Tapi, aku kan bisa berjualan lagi untuk menutupi kekurangannya," ujarku sambil tersenyum optimistis.
Opung yang bersuku batak itu sahabat engki. Ia menjadi anggota keluarga setelah menikahi salah seorang nenekku. Mama bilang, ketika aku kecil, Opung berencana menjodohkan aku dengan salah seorang anaknya. Tapi tampaknya tak jadi karena kami berbeda keyakinan. Opung adalah orang yang menarik. Ia bersama temannya, seorang bandar becak, mendirikan sebuah bank di Bandung.
Perusahaan itu terus berkembang dan sekarang dimiliki investor asing. Opung memang telah tiada. Namun, kebaikan dan sifat sederhananya masih kukenang. Berbekal uang pemberian Opung, aku mendaftar di kampus ganesha. Rupanya, aku membawa dompet yang salah sehingga uang yang kubawa kurang.
Untung saja, aku pergi bersama Mr Straight, teman lama yang sangat antusias masuk kampus ganesha. Ia meminjamkan uangnya. Hutang itu langsung kubayar setibanya di rumah. Mr Straight sangat baik. Selain meminjami uang, ia juga sering mengantar dan menjemputku. Kadang, kami latihan TOEFL bersama di rumahku. Mr Straight tidak lulus ujian masuk kampus ganesha.
Aku sedih. "Mr Straight pintar, tapi mengapa tidak lolos seleksi?" tanyaku dalam hati. Aku juga sedih kalau mengingat kebaikannya meminjami uang pendaftaran. Mr Straight akhirnya masuk kampus lain. Lalu, ia kembali mengikuti seleksi di kampus ganesha dan diterima pada angkatan berikutnya.
Lulus ujian, aku mengabari papaku. "Pa, aku jadi kuliah di kampus ganesha dong." Papa kaget. "Memangnya kamu punya uang?"
"Punya, donk," jawabku. Hati kecil berkata, "Mudah-mudahan papa bantuin aku bayar uang kuliah."
Papa kemudian diam. Lalu bertanya, "Berapa sih biayanya?"
"Kalau dicicil sekian. Kalau dilunasi sekian," jawabku.
Papa kembali bertanya,"Harus bayar kapan?" Aku menjawab sambil tersenyum, "Besok." "Nggak salah, tuh? Ya udah, kamu bayar besok. Ambil yg sekali bayar supaya nggak mahal."
****
Setelah kursus masak selesai, aku pindah ke Jakarta. Berkolaborasi dg sepupuku yg pandai membuat cake. Garasi kami ubah menjadi pabrik kue mini. Modal kami saat itu hanyalah oven gas milik sepupuku, serta dua kartu kredit. Satu kartu miliknya. Satu lagi milikku. Doaku saat itu hanya satu. Kalau ini memang jalanku, tolong beri kami pesanan yang banyak.
Saat itu bulan Ramadan. Kami harus memenuhi pesanan kue kering lebih dari 600 stoples, serta beberapa puluh cake. Untuk memenuhi pesanan, aku dan sepupuku bekerja shift.
Memiliki aktivitas yang bisa membuatku sibuk ternyata sangat berguna. Aku mulai melupakan Mr Funny Man sampai akhirnya dia menghubungiku kembali.
Pertemuan pertama kami terjadi di Plaza Senayan. Kebetulan, aku ada janji dengan seorang teman yang bernama Mr A. Perusahaan kakaknya membuka unit bisnis strategis (SBU) baru dan mereka memerlukan sistem operasi Windows. Ia meminta bantuanku.
"Ada, nih. Harganya US$2.200," kata sepupuku, Mr Saroeng.
Kuhubungi distributornya, lalu kutawar. Tawar menawar berhenti pada harga US$2.100. Temanku setuju dengan harga tersebut. Tanpa kuduga, distributor memberiku uang. "Jasa marketing," katanya. Uang tersebut kubagi dua dengan Mr Saroeng.
Pertemuan dg Mr A hanya berlangsung sebentar. Ia hanya mengambil barang, lalu pulang. Hubunganku dengan Mr Funny membaik. Belajar dari pengalaman, aku berusaha semaksimal mungkin agar tidak terlalu sering meneleponnya.
Strategi berhasil. Keadaan berbalik, ia meneleponku hampir setiap hari. Menjelang lebaran, kami pulang bareng. Tiket kereta kuperoleh gratis dari ibunya.
Lebaran usai. The Funny Man kembali ke Jakarta, aku tetap di Bandung. Aku mendapat pekerjaan sebagai dosen di salah satu akademi. Papa kembali meminta aku kursus di John Robert Power. "Apapun pekerjaanmu, kamu sebaiknya mengambil kursus kepribadian. Di sana, kamu bisa belajar etika menghadapi dan berbicara dengan orang." Saran tersebut kembali tidak terlaksana, sampai sekarang.
Tahun berganti. Teman kuliahku, Miss Andriani, menelepon. Ia menjadi dosen di kampus T, Jakarta. "Aku mau nikah, lalu pindah ke Bandung. Sekarang, aku lagi nyari orang untuk gantiin aku. Aku ingat, kamu dulu bercita-cita jadi dosen. Kamu mau nggak gantiin aku?" tanya Miss Andriani.
Tanpa berpikir panjang, tawaran kuambil dan aku pindah ke Jakarta.Roda kehidupan kembali berputar.
The Funny Man berkata, "Bekalku sudah cukup. Aku sudah belajar jadi creative designer dan art director. Aku mau kembali ke Bandung, membangun bisnis sendiri. Tapi, aku akan tetap mondar-mandir Bandung-Jakarta. Karena, klienku di Jakarta."
Aku menghela napas. "Terus aja bolak-balik. Bandung, Jakarta, Bandung. Tampaknya aku dan kamu memang tidak berjodoh," kataku dalam hati.
The Funny Man kembali ke Bandung. Hubungan kami kembali merenggang. Kami jarang bertemu. Dia sibuk mengembangkan mimpi serta mengurusi hobi barunya. Setiap kali kutelepon menanyakan kabarnya, ia akan menjawab. "Lagi bersihin kolam."
Jawaban lain, "Lagi ngasih makan ikan." Sejak ayahnya membeli akuarium sebesar lemari pakaian dua pintu, The Funny Man memang memiliki hobi baru. Memelihara ikan hias. (bersambung)
Negeri Pasir (3)
-LELAKI, PASIR, DAN SENDOK NASI-
PERTEMUAN dengan Miss Optimistic menambah ilmu ttg how to keep sand in my hand: Buat pasangan bergantung pada kita....
Aku tiba di jalan Bangka, Jakarta, sebelum pukul 14.00 WIB. Siang ini izin kantor, spesial untuk mengantarkan Miss Honest ke Bandara Soekarno-Hatta. Ia adalah satu dari dua sepupu yang usianya tidak berbeda jauh denganku. Dia akan berangkat ke Jepang untuk mengikuti suaminya yang kembali bertugas di sana.
Aku berangkat ke jalan Bangka untuk menghampiri Miss Optimistic. Ia adalah kakak sepupu yang 'dekat' denganku karena pernah tinggal di area yang sama. Orangtuaku di Rawabambu, orangtuanya di Salihara.
Ini adalah pertama kalinya aku mendatangi kantor Miss Optimistic. Cukup membingungkan karena penomoran rumah di daerah tersebut tidak berurutan. Dalam deret yang sama bisa ada nomor ganjil dan genap yang tidak berurutan. Tapi, untung saja supir taksi tidak sempat membawaku nyasar.
Taksi berhenti di depan bangunan bernomor 43. Pada bagian depan terdapat sebuah truk serta sedan berwarna abu-abu. Nama perusahaan terpampang di dinding. Tulisan itu mampu meyakinkan bila aku berada di tempat yang tepat. Seorang lelaki dengan tinggi kira-kira dua jengkal di atasku menyapa. "Cari siapa, mbak?" Lalu kujawab, "Miss Optimistic."
Setelah kuberitahu kalau aku adalah sepupu Miss Optimistic, lelaki yang tidak kuketahui namanya itu mempersilakan aku untuk naik ke lantai dua. Suasana di lantai dua sangat sepi. Setelah anak tangga teratas, aku menemukan dua pintu. Satu di sisi kiri. Satu lagi di sisi kanan.
"Kantor yang aneh," kataku dalam hati. Aku memutuskan untuk masuk ke pintu yang berada di sisi kanan. Pilihan tepat karena sepupuku alias Miss Optimistic ada di sana.
Ruangan kerja Miss Optimistic tidak sebesar ruangan di kantor lamanya yang berlokasi di Duren Tiga. Di ruangan itu terdapat empat meja kerja lengkap dengan komputer. Tidak banyak, tapi bisa membuatku iri. "Enaknya kalau bisa bekerja di kantor milik sendiri," pikirku.
Seketika, angan melayang. Membayangkan area terbuka yang ada di resto Mbah Jingkrak. Di area itu orang bisa makan di tempat yang beratapkan langit. "Sungguh menyenangkan bila aku bisa memiliki resto yang berlokasi di area terbuka. Sayang, harga tanah di Jakarta rata-rata mahal." Lamunanku terhenti karena Miss Optimistic tiba-tiba muncul di hadapanku dan berkata, "Gue shalat dulu ya. Abis itu kita ke bank, trus cabut ke bandara."
Perjalanan ke bandara dimulai setelah kami menyelesaikan urusan di dua bank yang ada di Mampang. Cukup melelahkan dan menyebalkan. Selain harus mengisi form transfer, saya juga harus mengantre. Kalau tidak salah, sudah dua bulan tidak berhubungan dg front officer bank. Untung saja, urusan antre-mengantre bisa selesai dalam waktu tidak lebih dari sejam sehingga kami bisa segera berangkat ke bandara.
Di sepanjang jalan, Miss Optimistic tak henti-henti bercerita. Dari mulai anak-anaknya yang menyenangkan, sampai rencana untuk mengisi libur lebaran. Bukan cuma itu. Ia mengeluhkan pula jalan tol yang menurutnya terlalu panjang sehingga membuatnya mengantuk. Sementara aku hanya mendengarkan sembari sesekali mengintip FB dan membujuknya untuk menemaniku berlibur. So far, ia tampak tertarik dan langsung menelepon suaminya untuk menceritakan rencana liburan tersebut.
Kami tiba di bandara sekitar pukul 16.35 WIB. Miss Honest belum tiba. Aku dan Miss Optimistic memutuskan untuk ngemil di salah satu gerai makanan. Pilihan jatuh pada bakso. Selesai makan, kami mengisi waktu dengan berpose 'gila'. Melelahkan, tapi menyenangkan. Jadi teringat sepuluh tahun lalu ketika aku, Miss Optimistic dan tiga temannya foto-foto di salah satu sudut Institut Teknologi Bandung yang asri.
Miss Honest tiba di bandara menjelang Maghrib. Ia datang bersama tiga anak, suami, ibu dan kakak tertuanya, Miss Crewet. Pertemuan berlangsung sekitar satu setengah jam. Setelah itu, bubar. Miss Honest masuk bersama anak-anak dan suami. Aku, Miss Optimistic, Miss Crewet dan ibunya pulang bersama-sama. Driver kami, Miss Optimistic, mengantarkan ibu dan Miss Crewet ke Bidakara. Setelah itu, kami makan nasi uduk di Sahardjo.
Cerita ttg lelaki dan pasir kembali kudengar saat makan bersama Miss Optimistic. Tapi, kali ini ada tambahannya. Ia bilang, dia bukan pencemburu. Suami mau pergi atau dinas ke manapun tak pernah dia larang. Ia juga mengaku cuek. Tapi, tak pernah lupa untuk menyetrika sendiri pakaian suaminya setiap pagi dan meletakkan nasi di atas piring suami. "Aktivitasnya ringan, Not. Cuma nyetrikain baju Mas I dan naroh nasi di piringnya. Tapi tnyt ampuh. Bikin Mas I jd tergantung ma gue. Dia tuh suka gak mau makan kalo gue belum naroh nasi di piringnya."
Satu lagi, Miss Optimistic juga mengaku cuek dalam hal pendapatan suaminya. Ia tidak pernah peduli berapa banyak uang yang diterima Mas I. "Bener loh, Not. Gue tuh gak pernah nanyain Mas I dapat uang berapa. Tapi, dia malah suka cerita tanpa gue tanya."
PERTEMUAN dengan Miss Optimistic menambah ilmu ttg how to keep sand in my hand: Buat pasangan bergantung pada kita....
Aku tiba di jalan Bangka, Jakarta, sebelum pukul 14.00 WIB. Siang ini izin kantor, spesial untuk mengantarkan Miss Honest ke Bandara Soekarno-Hatta. Ia adalah satu dari dua sepupu yang usianya tidak berbeda jauh denganku. Dia akan berangkat ke Jepang untuk mengikuti suaminya yang kembali bertugas di sana.
Aku berangkat ke jalan Bangka untuk menghampiri Miss Optimistic. Ia adalah kakak sepupu yang 'dekat' denganku karena pernah tinggal di area yang sama. Orangtuaku di Rawabambu, orangtuanya di Salihara.
Ini adalah pertama kalinya aku mendatangi kantor Miss Optimistic. Cukup membingungkan karena penomoran rumah di daerah tersebut tidak berurutan. Dalam deret yang sama bisa ada nomor ganjil dan genap yang tidak berurutan. Tapi, untung saja supir taksi tidak sempat membawaku nyasar.
Taksi berhenti di depan bangunan bernomor 43. Pada bagian depan terdapat sebuah truk serta sedan berwarna abu-abu. Nama perusahaan terpampang di dinding. Tulisan itu mampu meyakinkan bila aku berada di tempat yang tepat. Seorang lelaki dengan tinggi kira-kira dua jengkal di atasku menyapa. "Cari siapa, mbak?" Lalu kujawab, "Miss Optimistic."
Setelah kuberitahu kalau aku adalah sepupu Miss Optimistic, lelaki yang tidak kuketahui namanya itu mempersilakan aku untuk naik ke lantai dua. Suasana di lantai dua sangat sepi. Setelah anak tangga teratas, aku menemukan dua pintu. Satu di sisi kiri. Satu lagi di sisi kanan.
"Kantor yang aneh," kataku dalam hati. Aku memutuskan untuk masuk ke pintu yang berada di sisi kanan. Pilihan tepat karena sepupuku alias Miss Optimistic ada di sana.
Ruangan kerja Miss Optimistic tidak sebesar ruangan di kantor lamanya yang berlokasi di Duren Tiga. Di ruangan itu terdapat empat meja kerja lengkap dengan komputer. Tidak banyak, tapi bisa membuatku iri. "Enaknya kalau bisa bekerja di kantor milik sendiri," pikirku.
Seketika, angan melayang. Membayangkan area terbuka yang ada di resto Mbah Jingkrak. Di area itu orang bisa makan di tempat yang beratapkan langit. "Sungguh menyenangkan bila aku bisa memiliki resto yang berlokasi di area terbuka. Sayang, harga tanah di Jakarta rata-rata mahal." Lamunanku terhenti karena Miss Optimistic tiba-tiba muncul di hadapanku dan berkata, "Gue shalat dulu ya. Abis itu kita ke bank, trus cabut ke bandara."
Perjalanan ke bandara dimulai setelah kami menyelesaikan urusan di dua bank yang ada di Mampang. Cukup melelahkan dan menyebalkan. Selain harus mengisi form transfer, saya juga harus mengantre. Kalau tidak salah, sudah dua bulan tidak berhubungan dg front officer bank. Untung saja, urusan antre-mengantre bisa selesai dalam waktu tidak lebih dari sejam sehingga kami bisa segera berangkat ke bandara.
Di sepanjang jalan, Miss Optimistic tak henti-henti bercerita. Dari mulai anak-anaknya yang menyenangkan, sampai rencana untuk mengisi libur lebaran. Bukan cuma itu. Ia mengeluhkan pula jalan tol yang menurutnya terlalu panjang sehingga membuatnya mengantuk. Sementara aku hanya mendengarkan sembari sesekali mengintip FB dan membujuknya untuk menemaniku berlibur. So far, ia tampak tertarik dan langsung menelepon suaminya untuk menceritakan rencana liburan tersebut.
Kami tiba di bandara sekitar pukul 16.35 WIB. Miss Honest belum tiba. Aku dan Miss Optimistic memutuskan untuk ngemil di salah satu gerai makanan. Pilihan jatuh pada bakso. Selesai makan, kami mengisi waktu dengan berpose 'gila'. Melelahkan, tapi menyenangkan. Jadi teringat sepuluh tahun lalu ketika aku, Miss Optimistic dan tiga temannya foto-foto di salah satu sudut Institut Teknologi Bandung yang asri.
Miss Honest tiba di bandara menjelang Maghrib. Ia datang bersama tiga anak, suami, ibu dan kakak tertuanya, Miss Crewet. Pertemuan berlangsung sekitar satu setengah jam. Setelah itu, bubar. Miss Honest masuk bersama anak-anak dan suami. Aku, Miss Optimistic, Miss Crewet dan ibunya pulang bersama-sama. Driver kami, Miss Optimistic, mengantarkan ibu dan Miss Crewet ke Bidakara. Setelah itu, kami makan nasi uduk di Sahardjo.
Cerita ttg lelaki dan pasir kembali kudengar saat makan bersama Miss Optimistic. Tapi, kali ini ada tambahannya. Ia bilang, dia bukan pencemburu. Suami mau pergi atau dinas ke manapun tak pernah dia larang. Ia juga mengaku cuek. Tapi, tak pernah lupa untuk menyetrika sendiri pakaian suaminya setiap pagi dan meletakkan nasi di atas piring suami. "Aktivitasnya ringan, Not. Cuma nyetrikain baju Mas I dan naroh nasi di piringnya. Tapi tnyt ampuh. Bikin Mas I jd tergantung ma gue. Dia tuh suka gak mau makan kalo gue belum naroh nasi di piringnya."
Satu lagi, Miss Optimistic juga mengaku cuek dalam hal pendapatan suaminya. Ia tidak pernah peduli berapa banyak uang yang diterima Mas I. "Bener loh, Not. Gue tuh gak pernah nanyain Mas I dapat uang berapa. Tapi, dia malah suka cerita tanpa gue tanya."
Negeri Pasir (2)
- PASIR ITU HEBAT JUGA -
ADA enam hal yang membuatku terpesona pada The Logic White Guy. Pertama, ia good looking alias enak dilihat. Big eyes, pale skin dan broad shoulders merupakan daya tariknya. Kedua, dia hangat dan sopan. Ketiga, ia pintar dan logikanya selalu jalan. Keempat, suaranya bagus. Kelima, dia selalu ada setiap kali aku membutuhkannya. Keenam, aku nyaman berkomunikasi dengannya.
Ketika pertama kali berjumpa dengannya, aku langsung terkesima dengan penampilannya yang good looking. Ia memakai jas dan celana hitam. Penampilannya tampak modis karena dia mengenakan kemeja putih dengan kerah diangkat. Belakangan, aku tahu kalau celana yang dikenakannya bermerek Jobb. Merek yang mengingatkan aku pada seorang perempuan cantik yang dulu kupikir bisa menjadi ibu mertua yang menyenangkan.
Ok, lupakan masa lalu. Kembali ke The Logic White Guy. Dia ternyata bersuara indah dan pandai menyanyi. Mungkin bakat menyanyi turun dari ibunya yang pemimpin koor di gereja. Sungguh berbeda dengan suaraku yang cempreng. Dulu, waktu baru dekat, ia meneleponku hampir setiap malam. Hanya untuk menyanyikan satu atau dua bait lagu. Aku kadang iri dengannya. Sekitar 20 tahun lalu, mamaku pernah memenangkan lomba menyanyi seriosa tingkat nasional. Bahkan, TVRI pernah menawarinya menyanyi. Tapi, entah mengapa bakat itu tidak menurun padaku.
Suara cemprengku sempat membuat papa khawatir. "Kayaknya kamu perlu kursus di John Robert Power, deh. Kalau perlu, kursus olah vokal untuk memperbaiki kualitas suara kamu," kata papa ketika aku SMA. Saran tersebut kembali dilontarkan pada saat aku kuliah. Waktu itu papa tinggal di Makassar, aku kuliah di Kampus Hijau, Jakarta. "John Robert Power lagi buka kelas baru. Kamu daftar kursus kepribadian, ya. Kabari papa secepatnya begitu kamu sudah ke sana." Ucapan papa adalah titah yang harus segera dijalankan. Papa tidak suka melihat orang menunda pekerjaan, termasuk anaknya. Aku segera ke John Robert Power. Ternyata kelas belum bisa dibuka karena pendaftar baru dua orang. Berkali-kali aku mendaftar, gagal terus. Kelas yang kuminati tak pernah mencapai kuota. Aku tak pernah menyangka kalau perjumpaan pertama akan berlanjut dan berubah menjadi hubungan yang awet, hingga lebih dari tiga tahun. Padahal begitu banyak perbedaan di antara kami. Yang kasat mata, warna kulit kami jelas berbeda. Dia berkulit putih bersih, aku cokelat gelap. Dia good looking, aku biasa saja. Perbedaan lain, aku cerewet, dia agak pendiam. Aku berpikir dan berbicara tanpa logika, dia sangat berlogika dan selalu berhati-hati dalam berkata-kata. Aku Sunda, dia Batak.
Dilematis. Mama sangat ingin aku mendapatkan suami dari suku Batak. "Cowo Batak itu biasanya tegas, tapi mau ngikutin keinginan kamu." Begitu kata Mama. Usut punya usut, mantan pacar mama ternyata orang Batak. Tapi, tidak jadi menikah karena engki menjodohkan mama dengan papa. Engki adalah panggilanku untuk kakek. Kayaknya sih, mama sampai sekarang masih gondok karena engki tidak merestui hubungan mereka. Padahal, lelaki batak yang berbeda agama dengan mama itu sudah berencana pindah agama.
Di lain pihak, papa lebih senang kalau aku menikah dengan pria bersuku Jawa atau Sunda. Syarat lain, harus seagama dan single. Status single yang dimaksud papaku adalah pria yang tidak memiliki istri. Persyaratan yang sulit karena The Logic White Guy berbeda keyakinan denganku. Ini adalah kisah cinta terlarang yang tidak mungkin kulanjutkan. Tapi, justru mampu bertahan lebih dari tiga tahun. Mungkinkah karena kami menganut prinsip 'pasir'? Aku tak pernah menggenggamnya dengan erat. (bersambung) Selama berhubungan lebih dari tiga tahun, aku sangat jarang menelepon dia. Mungkin tak sampai 100 kali. Artinya, aku menelepon dia tak sampai empat kali dalam sebulan. Aku juga nyaris tidak pernah memintanya menemaniku, kecuali kalau ada urusan penting yang tak bisa kutangani sendiri. Pada 1,5 tahun pertama, kami bertemu hampir setiap hari. Setelah itu, frekuensi berkurang menjadi seminggu sekali karena kami sadar hubungan ini harus segera dihentikan. "Aku dan kamu tidak mungkin pindah agama. Artinya, hubungan ini nggak akan benar kalau dilanjutkan," ujar The Logic White Guy. Ia kemudian diam. "Trus?" tanyaku sambil memandang matanya yang besar. Bola matanya terlihat berusaha menghindari bola mataku. "Kita harus berhenti. Kamu harus mencari laki-laki lain untuk menjadi suamimu," katanya perlahan. "Ooo begitu. Ya udah, nanti kucari. Mudah-mudahan sih cepet dapet. Aku males nyari-nyari. Palagi kalo ampe ngejar-ngejar cowo," timpalku dengan santai. "Kamu gak boleh malas. Ayo semangat." Ia kembali diam selama beberapa detik, lalu melanjutkan ucapannya. " Tapi hubungan kita juga gak bisa langsung berhenti. Itu namanya maksain. Kalo distop sekarang akan menyakitkan, bagiku maupun kamu. Paling gak, butuh waktu setahun untuk benar-benar lepas." Pernyataannya membuatku mendengus di dalam hati. "Huh, kamu pikir gampang kali ya nyari cowo yg bisa bikin aku nyaman. Setelah putus sama mantanku yg sebelumnya, aku butuh waktu tiga tahun utk bisa membuka diri sama kamu. Itu juga beruntung karena kamu mau ngejar aku. Kalo gak, kita pasti gak pernah kayak sekarang." The Logic White Guy membuktikan ucapannya. Frekuensi pertemuan berkurang dari setiap hari menjadi seminggu sekali. Itupun bukan malam minggu. "Supaya kamu bisa jalan sama cowo laen," jelasnya. Meski begitu, ia tetap mengecek keberadaanku. "Malam minggu ini kamu jalan-jalan, kan? Sama siapa?" Kalau kujawab tidak ke mana-mana atau pergi, tapi dengan teman perempuan, ia akan ngomel. "Jangan gitu, dong. Masa perginya bukan sama cowo!?" Setahun berlalu, kupikir dia akan benar-benar pergi dari hidupku. Ternyata tidak. Dia masih tetap datang. Kadang aku merindukannya. Pada saat yang bersamaan, ia biasanya menelepon dan mengajak jalan. Kontak batin di antara aku dan dia ternyata masih ada. Walaupun aku tidak pernah menuntut untuk bertemu, dia tampaknya masih merasa wajib untuk menemaniku minimal seminggu sekali. Aku juga tahu dia selalu merasa bersalah jika tidak menemuiku sekalipun dalam seminggu. "Aduh, aku dah lama ya gak maen sama kamu. Minggu kemarin, kerjaanku selesainya malam terus. Minggu ini juga kayaknya bakal begitu. Tapi, aku usahain untuk dolan sama kamu malam ini." Aku tidak suka memaksa orang yang sedang sibuk bekerja untuk menemaniku. Karenanya, aku pasti akan menjawab seperti ini. "Gak usah, deh. Nanti kamu malah tepar. Lagian aku juga lagi banyak tulisan." Tapi, dia biasanya sudah punya jawaban jitu. "Jangan gitu, dong. Aku kan lapar. Kalau aku makan di kantor pasti menghabiskan waktu sejam juga. Trus, kamu juga kan pasti belum makan. Ayo, kutemani kamu makan." Setahun berlalu. Ia meningkatkan kembali frekuensi pertemuan kami. Pada akhir pekan, dia juga datang lagi. Aku pernah bertanya, "Kok kamu masih mau deket-deket sama aku?" "Ya iya lah. Aku kan nyaman karena tahu kamu selalu ada untukku.Aku menghilang karena sibuk, kamu tetap ada. Aku muncul lagi, kamu masih mau nerima."
ADA enam hal yang membuatku terpesona pada The Logic White Guy. Pertama, ia good looking alias enak dilihat. Big eyes, pale skin dan broad shoulders merupakan daya tariknya. Kedua, dia hangat dan sopan. Ketiga, ia pintar dan logikanya selalu jalan. Keempat, suaranya bagus. Kelima, dia selalu ada setiap kali aku membutuhkannya. Keenam, aku nyaman berkomunikasi dengannya.
Ketika pertama kali berjumpa dengannya, aku langsung terkesima dengan penampilannya yang good looking. Ia memakai jas dan celana hitam. Penampilannya tampak modis karena dia mengenakan kemeja putih dengan kerah diangkat. Belakangan, aku tahu kalau celana yang dikenakannya bermerek Jobb. Merek yang mengingatkan aku pada seorang perempuan cantik yang dulu kupikir bisa menjadi ibu mertua yang menyenangkan.
Ok, lupakan masa lalu. Kembali ke The Logic White Guy. Dia ternyata bersuara indah dan pandai menyanyi. Mungkin bakat menyanyi turun dari ibunya yang pemimpin koor di gereja. Sungguh berbeda dengan suaraku yang cempreng. Dulu, waktu baru dekat, ia meneleponku hampir setiap malam. Hanya untuk menyanyikan satu atau dua bait lagu. Aku kadang iri dengannya. Sekitar 20 tahun lalu, mamaku pernah memenangkan lomba menyanyi seriosa tingkat nasional. Bahkan, TVRI pernah menawarinya menyanyi. Tapi, entah mengapa bakat itu tidak menurun padaku.
Suara cemprengku sempat membuat papa khawatir. "Kayaknya kamu perlu kursus di John Robert Power, deh. Kalau perlu, kursus olah vokal untuk memperbaiki kualitas suara kamu," kata papa ketika aku SMA. Saran tersebut kembali dilontarkan pada saat aku kuliah. Waktu itu papa tinggal di Makassar, aku kuliah di Kampus Hijau, Jakarta. "John Robert Power lagi buka kelas baru. Kamu daftar kursus kepribadian, ya. Kabari papa secepatnya begitu kamu sudah ke sana." Ucapan papa adalah titah yang harus segera dijalankan. Papa tidak suka melihat orang menunda pekerjaan, termasuk anaknya. Aku segera ke John Robert Power. Ternyata kelas belum bisa dibuka karena pendaftar baru dua orang. Berkali-kali aku mendaftar, gagal terus. Kelas yang kuminati tak pernah mencapai kuota. Aku tak pernah menyangka kalau perjumpaan pertama akan berlanjut dan berubah menjadi hubungan yang awet, hingga lebih dari tiga tahun. Padahal begitu banyak perbedaan di antara kami. Yang kasat mata, warna kulit kami jelas berbeda. Dia berkulit putih bersih, aku cokelat gelap. Dia good looking, aku biasa saja. Perbedaan lain, aku cerewet, dia agak pendiam. Aku berpikir dan berbicara tanpa logika, dia sangat berlogika dan selalu berhati-hati dalam berkata-kata. Aku Sunda, dia Batak.
Dilematis. Mama sangat ingin aku mendapatkan suami dari suku Batak. "Cowo Batak itu biasanya tegas, tapi mau ngikutin keinginan kamu." Begitu kata Mama. Usut punya usut, mantan pacar mama ternyata orang Batak. Tapi, tidak jadi menikah karena engki menjodohkan mama dengan papa. Engki adalah panggilanku untuk kakek. Kayaknya sih, mama sampai sekarang masih gondok karena engki tidak merestui hubungan mereka. Padahal, lelaki batak yang berbeda agama dengan mama itu sudah berencana pindah agama.
Di lain pihak, papa lebih senang kalau aku menikah dengan pria bersuku Jawa atau Sunda. Syarat lain, harus seagama dan single. Status single yang dimaksud papaku adalah pria yang tidak memiliki istri. Persyaratan yang sulit karena The Logic White Guy berbeda keyakinan denganku. Ini adalah kisah cinta terlarang yang tidak mungkin kulanjutkan. Tapi, justru mampu bertahan lebih dari tiga tahun. Mungkinkah karena kami menganut prinsip 'pasir'? Aku tak pernah menggenggamnya dengan erat. (bersambung) Selama berhubungan lebih dari tiga tahun, aku sangat jarang menelepon dia. Mungkin tak sampai 100 kali. Artinya, aku menelepon dia tak sampai empat kali dalam sebulan. Aku juga nyaris tidak pernah memintanya menemaniku, kecuali kalau ada urusan penting yang tak bisa kutangani sendiri. Pada 1,5 tahun pertama, kami bertemu hampir setiap hari. Setelah itu, frekuensi berkurang menjadi seminggu sekali karena kami sadar hubungan ini harus segera dihentikan. "Aku dan kamu tidak mungkin pindah agama. Artinya, hubungan ini nggak akan benar kalau dilanjutkan," ujar The Logic White Guy. Ia kemudian diam. "Trus?" tanyaku sambil memandang matanya yang besar. Bola matanya terlihat berusaha menghindari bola mataku. "Kita harus berhenti. Kamu harus mencari laki-laki lain untuk menjadi suamimu," katanya perlahan. "Ooo begitu. Ya udah, nanti kucari. Mudah-mudahan sih cepet dapet. Aku males nyari-nyari. Palagi kalo ampe ngejar-ngejar cowo," timpalku dengan santai. "Kamu gak boleh malas. Ayo semangat." Ia kembali diam selama beberapa detik, lalu melanjutkan ucapannya. " Tapi hubungan kita juga gak bisa langsung berhenti. Itu namanya maksain. Kalo distop sekarang akan menyakitkan, bagiku maupun kamu. Paling gak, butuh waktu setahun untuk benar-benar lepas." Pernyataannya membuatku mendengus di dalam hati. "Huh, kamu pikir gampang kali ya nyari cowo yg bisa bikin aku nyaman. Setelah putus sama mantanku yg sebelumnya, aku butuh waktu tiga tahun utk bisa membuka diri sama kamu. Itu juga beruntung karena kamu mau ngejar aku. Kalo gak, kita pasti gak pernah kayak sekarang." The Logic White Guy membuktikan ucapannya. Frekuensi pertemuan berkurang dari setiap hari menjadi seminggu sekali. Itupun bukan malam minggu. "Supaya kamu bisa jalan sama cowo laen," jelasnya. Meski begitu, ia tetap mengecek keberadaanku. "Malam minggu ini kamu jalan-jalan, kan? Sama siapa?" Kalau kujawab tidak ke mana-mana atau pergi, tapi dengan teman perempuan, ia akan ngomel. "Jangan gitu, dong. Masa perginya bukan sama cowo!?" Setahun berlalu, kupikir dia akan benar-benar pergi dari hidupku. Ternyata tidak. Dia masih tetap datang. Kadang aku merindukannya. Pada saat yang bersamaan, ia biasanya menelepon dan mengajak jalan. Kontak batin di antara aku dan dia ternyata masih ada. Walaupun aku tidak pernah menuntut untuk bertemu, dia tampaknya masih merasa wajib untuk menemaniku minimal seminggu sekali. Aku juga tahu dia selalu merasa bersalah jika tidak menemuiku sekalipun dalam seminggu. "Aduh, aku dah lama ya gak maen sama kamu. Minggu kemarin, kerjaanku selesainya malam terus. Minggu ini juga kayaknya bakal begitu. Tapi, aku usahain untuk dolan sama kamu malam ini." Aku tidak suka memaksa orang yang sedang sibuk bekerja untuk menemaniku. Karenanya, aku pasti akan menjawab seperti ini. "Gak usah, deh. Nanti kamu malah tepar. Lagian aku juga lagi banyak tulisan." Tapi, dia biasanya sudah punya jawaban jitu. "Jangan gitu, dong. Aku kan lapar. Kalau aku makan di kantor pasti menghabiskan waktu sejam juga. Trus, kamu juga kan pasti belum makan. Ayo, kutemani kamu makan." Setahun berlalu. Ia meningkatkan kembali frekuensi pertemuan kami. Pada akhir pekan, dia juga datang lagi. Aku pernah bertanya, "Kok kamu masih mau deket-deket sama aku?" "Ya iya lah. Aku kan nyaman karena tahu kamu selalu ada untukku.Aku menghilang karena sibuk, kamu tetap ada. Aku muncul lagi, kamu masih mau nerima."
Negeri Pasir (1)
-LELAKI SEPERTI PASIR-
TAKSI yang kutumpangi berhenti tepat di depan FX. Hari itu, Minggu, 16 Agustus 2009, aku datang ke sana untuk menemui Dhina. Salah seorang sahabat perempuan yang kukenal ketika kuliah di Kampus Ganesa, Bandung. Sudah lama aku tidak nongkrong dengannya.
Setelah membayar taksi yang argometernya memperlihatkan angka 10.500, aku bergegas ke luar dari mobil berwarna putih itu. Jarum jam menunjuk angka 17.45 WIB. Langit masih biru. Hembusan angin yang menampar tubuh terasa hangat.
Aku berjalan menuju pintu masuk FX dengan tergesa-gesa. Sejuknya AC mendorongku untuk segera menginjakkan kaki di dalam mal. Namun, langkahku harus terhenti sejenak akibat security check.
Tas kubuka. Petugas keamanan tampak tersenyum melihat isi tasku. Kamera, dompet, beauty case, sisir, dan tentu saja dua roll rambut berwarna biru muda. Rol yang diameternya sebesar diameter payung adalah barang andalan yang selalu kubawa pada saat ini.
Memiliki rambut dengan panjang sebahu bukanlah hal mudah buatku. Tanpa rol, rambut pasti akan seperti singa. Runcung dengan bagian ujung mengarah ke luar. Begitu julukan tante dan sepupu-sepupuku.
Untung saja, pemeriksaan tidak lama. Kurang dari lima menit. Udara hangat berubah dingin begitu aku memasuki pintu FX. Mataku langsung melirik ke sebelah kiri. Terlihat tulisan Cold Stone. Aku melangkahkan kaki ke sana.
Orang yg kucari ternyata tak ada di gerai Cold Stone. Kuambil handphone dari dalam tas selempang berwarna cokelat. Belum sempat kutekan tombol-tombolnya, handphone berbunyi. 02126xxxxxx. "Rinceee, di mana?" Nada ramah dan ceria ke luar dari earphone. Aku hafal suara itu. Suara Dhina alias Si Ambon.
Itu adalah panggilan kesayangan kami, yakni aku dan teman-temanku, untuk dia. Rambutnya saat ini lurus dan ikal pada bagian bawah. Namun, rambut aslinya keriting. Itu sebabnya, kami menjuluki perempuan keturunan Ngawi tersebut Si Ambon.
"Aku udah di depan Cold Stone, Na," jawabku. "Loh, Na barusan lewat situ, kog ga liat. Tunggu, ya. Na susul kamu ke sana."
Tidak sampai lima menit, bayangannya sudah terlihat di kaca yang ada di depan gerai Cold Stone. Bercelana jeans, atasan cokelat. Tak ketinggalan, tasnya pun berwarna cokelat. Ia tidak sendiri. Di sebelah kiri ada adik lelakinya, Dhito. Ia berkulit putih yang tingginya sekitar 10-15 sentimeter di atas Dhina. Selama ini, Dhito memang sering menemani kakaknya.
Pertemuan dimulai dengan cium pipi kiri dan kanan. Seperti biasa, Dhito atau si adik, protes. "Kita ko ga cipika cipiki juga?" Si adik memang lucu. Dia suka mengeluarkan komentar-komentar yang polos dan kadang tidak kuduga.
Si mbak penjual es krim melayani kami dengan sabar. Dhina, seperti biasa, memilih es krim rasa dark chocolate. Aku, masih bingung. Setelah icip-icip yang rasa mint, green tea dan apple, pilihan jatuh pada es krim berasa mint. Untuk menutupi rasa manis, aku meminta mbaknya mencampur dengan blueberry.
Kami berjalan bertiga sambil saling icip-icip es krim. "Trus, kita mau ke mana?" tanya Dhina. "Wisata kuliner di parkir timur senayan aja, yuk. Kalo ga, kita ke kopitiam oey." Tapi, kulihat pandangan bingung di bola mata Dhina yang besar. "Kita duduk dulu di Cold Stone. Sambil ngobrol. Setelah itu, baru kita tentuin mau ke mana."
Kami duduk di lantai dua. Obrolan bermula dengan menanyakan kabar teman-teman. Si adik sibuk membuka-buka majalah. Pembicaraan mengenai kabar teman-teman terhenti. Dhito memperlihatkan foto anjing. Yang ini sudah kuduga. Mata Dhina langsung berkaca-kaca. Padahal adik menunjukkan gambar anjing untuk menyenangkan hati kakaknya.
Tapi, Dhina yang baru saja kehilangan anjing kesayangannya justru menjadi sedih. Pembicaraan pun beralih, dari kabar teman-teman ke anjing. "Aku sedih banget. Anjingku, si Golden, mati. Di tanganku, dan gara-gara aku," kata Dhina.
Bukannya ikut sedih, aku malah tertawa. Teringat kejadian beberapa hari lalu, ketika chit chat lewat yahoo messenger dengan Dhina. Waktu itu, Dhina menulis kalau si golden meninggal. Pikiranku langsung terbang dan membayangkan kucing-kucing yang ada di rumahnya yang di Bandung. Karenanya, aku langsung menanggapi kata-katanya dengan mengucapkan turut berduka cita.
Begini isi postingannya, "Na, aku turut berduka atas matinya si meong. Jangan sedih, ya."
Di luar dugaan, Dhina menulis seperti ini. "Golden itu kan guguk, bukan meong." Ups, aku membuat kesalahan. Golden ternyata anjing jenis Golden Retriever.
Pembicaraan ttg si golden berlanjut. "Na sedih karena golden mati di pelukan Na. Trus, yang bikin golden mati juga Na."
Pikiranku langsung berimajinasi. Mati di tangannya. Apakah itu berarti Na salah ngasih makan? Tebakanku ternyata salah. Golden mati karena prosedur memandikannya salah. Usia Golden baru tiga bulan. Dhina memandikannya seminggu sekali.
"Na mandiin Golden seminggu sekali supaya enak meluknya. Na kan suka mangku dia," kata Dhina. Padahal, golden retriever baru boleh dimandikan setelah berumur lebih dari enam bulan.
Usai bercerita, air mata kembali jatuh di pipi Dhina yang bersemu merah itu. "Na miara golden waktu umurnya baru dua bulan. Jadi, na baru urus dia sebulan. Eh, udah mati." ujarnya. Setelah itu, pembicaraan ttg golden selesai.
Cerita kembali pada kabar teman-teman, aku, Dhina dan Dhito, serta kisah cinta tentang kasus KDRT yang konon terjadi akibat perbedaan agama. Si istri yang kristian ingin membaptis anaknya. Sang suami yang muslim tidak mengizinkan anaknya dibaptis.
Yang kami bahas bukan individu atau agamanya, tetapi lebih pada pentingnya konsistensi dan komunikasi di antara pasangan menikah yang beda agama. Dhina juga menyentil sedikit tentang hubunganku dg pria yang berbeda agama.
"Kalau nikah sama yg beda agama, yang penting komunikasiin nanti anak ikut agama siapa," kata Dhina. Aku hanya nyengir mendengar ucapannya. "Yah, sayang aku cewe. Perempuan muslim kan gak bisa nikah sama laki-laki nonmuslim."
Pembicaraan berlanjut. Objek penderita kali ini adalah perempuan-perempuan yang terlalu cinta atau menggenggam cowonya terlalu erat. Seperti biasa, Dhina sangat cerewet hari itu.
"Pacarku bilang, laki-laki itu kayak pasir."
Dhina mengepalkan jari-jarinya, lalu menunjuk setiap sela yang ada di antara jari satu dan lainnya. "Bayangin ada pasir di dalam kepalan tanganku. Semakin keras kita menggenggam, semakin banyak pasir yang ke luar dari sela-sela jari kita. Trus, lama-lama akan habis."
Dhina membuka kepalan jarinya. "Tapi, kalo kita lepas kepalannya, pasir itu justru gak akan habis."
TAKSI yang kutumpangi berhenti tepat di depan FX. Hari itu, Minggu, 16 Agustus 2009, aku datang ke sana untuk menemui Dhina. Salah seorang sahabat perempuan yang kukenal ketika kuliah di Kampus Ganesa, Bandung. Sudah lama aku tidak nongkrong dengannya.
Setelah membayar taksi yang argometernya memperlihatkan angka 10.500, aku bergegas ke luar dari mobil berwarna putih itu. Jarum jam menunjuk angka 17.45 WIB. Langit masih biru. Hembusan angin yang menampar tubuh terasa hangat.
Aku berjalan menuju pintu masuk FX dengan tergesa-gesa. Sejuknya AC mendorongku untuk segera menginjakkan kaki di dalam mal. Namun, langkahku harus terhenti sejenak akibat security check.
Tas kubuka. Petugas keamanan tampak tersenyum melihat isi tasku. Kamera, dompet, beauty case, sisir, dan tentu saja dua roll rambut berwarna biru muda. Rol yang diameternya sebesar diameter payung adalah barang andalan yang selalu kubawa pada saat ini.
Memiliki rambut dengan panjang sebahu bukanlah hal mudah buatku. Tanpa rol, rambut pasti akan seperti singa. Runcung dengan bagian ujung mengarah ke luar. Begitu julukan tante dan sepupu-sepupuku.
Untung saja, pemeriksaan tidak lama. Kurang dari lima menit. Udara hangat berubah dingin begitu aku memasuki pintu FX. Mataku langsung melirik ke sebelah kiri. Terlihat tulisan Cold Stone. Aku melangkahkan kaki ke sana.
Orang yg kucari ternyata tak ada di gerai Cold Stone. Kuambil handphone dari dalam tas selempang berwarna cokelat. Belum sempat kutekan tombol-tombolnya, handphone berbunyi. 02126xxxxxx. "Rinceee, di mana?" Nada ramah dan ceria ke luar dari earphone. Aku hafal suara itu. Suara Dhina alias Si Ambon.
Itu adalah panggilan kesayangan kami, yakni aku dan teman-temanku, untuk dia. Rambutnya saat ini lurus dan ikal pada bagian bawah. Namun, rambut aslinya keriting. Itu sebabnya, kami menjuluki perempuan keturunan Ngawi tersebut Si Ambon.
"Aku udah di depan Cold Stone, Na," jawabku. "Loh, Na barusan lewat situ, kog ga liat. Tunggu, ya. Na susul kamu ke sana."
Tidak sampai lima menit, bayangannya sudah terlihat di kaca yang ada di depan gerai Cold Stone. Bercelana jeans, atasan cokelat. Tak ketinggalan, tasnya pun berwarna cokelat. Ia tidak sendiri. Di sebelah kiri ada adik lelakinya, Dhito. Ia berkulit putih yang tingginya sekitar 10-15 sentimeter di atas Dhina. Selama ini, Dhito memang sering menemani kakaknya.
Pertemuan dimulai dengan cium pipi kiri dan kanan. Seperti biasa, Dhito atau si adik, protes. "Kita ko ga cipika cipiki juga?" Si adik memang lucu. Dia suka mengeluarkan komentar-komentar yang polos dan kadang tidak kuduga.
Si mbak penjual es krim melayani kami dengan sabar. Dhina, seperti biasa, memilih es krim rasa dark chocolate. Aku, masih bingung. Setelah icip-icip yang rasa mint, green tea dan apple, pilihan jatuh pada es krim berasa mint. Untuk menutupi rasa manis, aku meminta mbaknya mencampur dengan blueberry.
Kami berjalan bertiga sambil saling icip-icip es krim. "Trus, kita mau ke mana?" tanya Dhina. "Wisata kuliner di parkir timur senayan aja, yuk. Kalo ga, kita ke kopitiam oey." Tapi, kulihat pandangan bingung di bola mata Dhina yang besar. "Kita duduk dulu di Cold Stone. Sambil ngobrol. Setelah itu, baru kita tentuin mau ke mana."
Kami duduk di lantai dua. Obrolan bermula dengan menanyakan kabar teman-teman. Si adik sibuk membuka-buka majalah. Pembicaraan mengenai kabar teman-teman terhenti. Dhito memperlihatkan foto anjing. Yang ini sudah kuduga. Mata Dhina langsung berkaca-kaca. Padahal adik menunjukkan gambar anjing untuk menyenangkan hati kakaknya.
Tapi, Dhina yang baru saja kehilangan anjing kesayangannya justru menjadi sedih. Pembicaraan pun beralih, dari kabar teman-teman ke anjing. "Aku sedih banget. Anjingku, si Golden, mati. Di tanganku, dan gara-gara aku," kata Dhina.
Bukannya ikut sedih, aku malah tertawa. Teringat kejadian beberapa hari lalu, ketika chit chat lewat yahoo messenger dengan Dhina. Waktu itu, Dhina menulis kalau si golden meninggal. Pikiranku langsung terbang dan membayangkan kucing-kucing yang ada di rumahnya yang di Bandung. Karenanya, aku langsung menanggapi kata-katanya dengan mengucapkan turut berduka cita.
Begini isi postingannya, "Na, aku turut berduka atas matinya si meong. Jangan sedih, ya."
Di luar dugaan, Dhina menulis seperti ini. "Golden itu kan guguk, bukan meong." Ups, aku membuat kesalahan. Golden ternyata anjing jenis Golden Retriever.
Pembicaraan ttg si golden berlanjut. "Na sedih karena golden mati di pelukan Na. Trus, yang bikin golden mati juga Na."
Pikiranku langsung berimajinasi. Mati di tangannya. Apakah itu berarti Na salah ngasih makan? Tebakanku ternyata salah. Golden mati karena prosedur memandikannya salah. Usia Golden baru tiga bulan. Dhina memandikannya seminggu sekali.
"Na mandiin Golden seminggu sekali supaya enak meluknya. Na kan suka mangku dia," kata Dhina. Padahal, golden retriever baru boleh dimandikan setelah berumur lebih dari enam bulan.
Usai bercerita, air mata kembali jatuh di pipi Dhina yang bersemu merah itu. "Na miara golden waktu umurnya baru dua bulan. Jadi, na baru urus dia sebulan. Eh, udah mati." ujarnya. Setelah itu, pembicaraan ttg golden selesai.
Cerita kembali pada kabar teman-teman, aku, Dhina dan Dhito, serta kisah cinta tentang kasus KDRT yang konon terjadi akibat perbedaan agama. Si istri yang kristian ingin membaptis anaknya. Sang suami yang muslim tidak mengizinkan anaknya dibaptis.
Yang kami bahas bukan individu atau agamanya, tetapi lebih pada pentingnya konsistensi dan komunikasi di antara pasangan menikah yang beda agama. Dhina juga menyentil sedikit tentang hubunganku dg pria yang berbeda agama.
"Kalau nikah sama yg beda agama, yang penting komunikasiin nanti anak ikut agama siapa," kata Dhina. Aku hanya nyengir mendengar ucapannya. "Yah, sayang aku cewe. Perempuan muslim kan gak bisa nikah sama laki-laki nonmuslim."
Pembicaraan berlanjut. Objek penderita kali ini adalah perempuan-perempuan yang terlalu cinta atau menggenggam cowonya terlalu erat. Seperti biasa, Dhina sangat cerewet hari itu.
"Pacarku bilang, laki-laki itu kayak pasir."
Dhina mengepalkan jari-jarinya, lalu menunjuk setiap sela yang ada di antara jari satu dan lainnya. "Bayangin ada pasir di dalam kepalan tanganku. Semakin keras kita menggenggam, semakin banyak pasir yang ke luar dari sela-sela jari kita. Trus, lama-lama akan habis."
Dhina membuka kepalan jarinya. "Tapi, kalo kita lepas kepalannya, pasir itu justru gak akan habis."
Subscribe to:
Posts (Atom)