Wednesday, 3 December 2008

Sekolah Darurat Kartini: Semangat Belajar itu Tumbuh di Kolong Jembatan

"ENGGAK, belum pernah dengar," ujar Ria, 7, ketika Media Indonesia bertanya apakah ia mengetahui Hari Kebangkitan Nasional, Jumat (16/5), di Sekolah Darurat Kartini, Lodan Raya, Jakarta Utara.
Jawaban spontan juga dilontarkan dua teman sekelasnya di Sekolah Darurat Kartini, Ali, 6, dan Wulan, 9.
Wajar bila mereka tidak mengetahui Hari Kebangkitan Nasional. Pasalnya, pelajaran sejarah baru diberikan saat siswa duduk di kelas 3 sekolah dasar (SD).
Sebaliknya, Aan, siswa kelas 6 SD, justru dengan lancar menyebutkan dengan tepat tanggal Hari Kebangkitan Nasional. Namun, begitu ditanya siapa Budi Utomo dan apa hubungannya dengan kebangkitan nasional, gadis berkerudung itu tidak bisa menjawab.
Ria, Ali, Wulan, dan Aan hanyalah sebagian kecil dari warga negara Indonesia yang melupakan Hari Kebangkitan Nasional serta sejarah Kebangkitan Nasional. Namun, untunglah ketidaktahuan mengenai sejarah Kebangkitan Nasional tidak berarti semangat persatuan dan kesatuan mereka juga sudah luntur.
Setidaknya, itulah kesan yang ditangkap Media Indonesia saat berkunjung ke Sekolah Darurat Kartini. Ini adalah sekolah yang didirikan serta didanai dua perempuan kembar Sri Rosiati (Rosi) dan Sri Irianingsih (Rian). Pesertanya kebanyakan adalah anak jalanan dan pemulung yang tinggal di daerah kumuh sekitar Ancol. Jenjang pendidikan yang ditawarkan adalah SD, sekolah menengah pertama (SMP), dan sekolah menengah atas (SMA).
Meski awalnya mengaku mendirikan sekolah tersebut hanya sekadar untuk mengisi hari tua, dua perempuan yang biasa dipanggil Ibu Kembar itu akhirnya mengemukakan bila mereka merasa ikut bertanggung jawab terhadap kegiatan belajar-mengajar di Indonesia.
"Rakyat itu wajib mengikuti pendidikan. Negara wajib memberikan pendidikan. Itu tercantum dalam Undang-Undang 1945," tegas Rosi.
Namun, pada praktiknya, amanat konstitusi UUD 1945 belum sepenuhnya diejawantahkan pemerintah. Ia pun membandingkan kondisi saat ini dengan era pemerintahan Presiden pertama RI Soekarno.
Rakyat, lanjut perempuan berusia 59 tahun itu, sebelum 1970-an tidak perlu membayar iuran sekolah. Karena itu, sampai sekitar 1966, suaminya yang berprofesi sebagai dokter kandungan beserta dokter-dokter Indonesia lain yang bersekolah pada era tersebut tidak pernah membayar uang kuliah sepeser pun.
Namun, ujar perempuan yang memiliki empat anak itu, kondisinya kini sudah berubah. Untuk bisa bersekolah, rakyat harus membayar uang iuran. Padahal, dalam pandangannya, kewajiban membayar iuran sekolah dapat menghambat pemerataan penyebaran pendidikan dan kemajuan suatu bangsa. "Saya merasa ikut bertanggung jawab terhadap penyebaran pendidikan di Indonesia yang belum merata," tambah Rian.

Semangat nasionalisme
Dengan berbekal semangat nasionalisme tersebut, dua perempuan yang tinggal di kawasan elite Kelapa Gading, Jakarta Utara, itu pun merogoh dana dari kocek mereka untuk mendirikan sekolah darurat pada 1990.
Sebagaimana namanya, Sekolah Darurat, bangunannya sangat sederhana. Hanya terdiri satu ruangan panjang yang terbuat dari tripleks. Lokasinya pun di bawah jembatan tol Jalan Lodan Raya, Ancol, Jakarta Utara. Namun, justru di ruangan yang hanya satu-satunya itu, semangat gotong-royong dan persatuan terasa sangat kental.
Setiap siang, seluruh murid dari berbagai kelas di SD, SMP, hingga SMA duduk bersama-sama untuk menikmati hidangan yang telah dimasak teman-teman mereka yang mendapat giliran piket memasak. Pada pagi hari, murid juga diberi segelas susu.
Tidak ada perbedaan di antara mereka. Baik Ibu Kembar maupun seluruh murid sekolah darurat menikmati menu dan menggunakan alat makan yang sama.
Buat Rosi, menyediakan hidangan gratis sangat penting agar anak-anak tidak bolos sekolah dengan alasan mesti bekerja untuk mencari makan. Sepulang dari sekolah, lanjut lulusan IKIP itu, mereka dapat bekerja.
Untuk meningkatkan kesejahteraan siswa, baik Rosi maupun Rian, senantiasa mengarahkan murid-murid Sekolah Darurat Kartini untuk mencari pekerjaan yang lebih baik ketimbang jadi pemulung. Karena itu, ada sejumlah murid yang bekerja di toko roti ataupun toko modern, seperti Carrefour.
Lantas, apa saja yang diajarkan Rosi dan Rian kepada murid sekolah darurat? Selain budi pekerti, moral, dan pelajaran yang bersifat akademis, mereka mengajarkan keterampilan, seperti montir, menyetir, merias pengantin, melulur, dan menjahit.
Selain itu, anak-anak diajarkan menyanyikan lagu-lagu nasional dan diajak untuk mengartikan setiap lirik yang terdapat di dalam lagu tersebut. Dari situ, rasa bangga terhadap Tanah Air diharapkan akan tumbuh.
Melalui berbagai metode-metode tersebut, Ibu Kembar itu berhasil menunjukkan dedikasi mereka yang tinggi terhadap dunia pendidikan dan kebangkitan kaum marginal. Sekolah darurat seperti Kartini membuka kesempatan kaum marginal meraih kesempatan mendapatkan kehidupan yang layak. (Dimuat di Edisi Kebangkitan Bangsa Media Indonesia pada tanggal 21 Mei 2008)

Tuesday, 2 December 2008

Opick: Berbekal Niat yang Lurus

KESEMPATAN kadang kala tidak datang dua kali. Karena itu, ambil setiap peluang yang ada sambil membaca basmalah lalu jalankan dengan sungguh-sungguh. Tak percaya? Pencipta lagu dan penyanyi religius Aunur Rofiq Lil Firdaus alias Opick sudah mengalaminya.
Pelantun lagu Tombo Ati itu mengaku keseriusannya meluncurkan album-album bertema religius diawali adanya tawaran menyanyikan lagu-lagu bernuansa islami. Semula ia ragu, tetapi dengan bekal basmalah dan harapan akan dapat hidayah dan berkah, ia pun bertekad untuk serius menekuni aliran musik bertema religius.
Harapan Opick itu rupanya terwujud. Sebulan setelah dirilis, album pertamanya yang berjudul Istighfar dan diluncurkan pada 2005 berhasil mendapatkan perhargaan lima platinum dengan penjualan melampaui angka 800 ribu.
Setelah album Istighfar, ia kembali meluncurkan yang lain yaitu Semesta Bertasbih (2006), Ya Rahman (2007), dan Cahaya Hati (2008). Album-album tersebut umumnya dirilis menjelang Ramadan.
Keaktifannya menekuni aliran musik bernuansa religius diakui pula oleh Asosiasi Nasyid Nusantara (ANN) yang kemudian menobatkan Opick sebagai duta grup musik islami nasyid. Selain merilis album, Opick mengaku senang menulis. Karena itu, tak lama setelah album kedua, ia meluncurkan buku berjudul Opick, Oase Spiritual dalam Senandung.
Pada halaman dua buku tersebut, ia bercerita jika nasihat, imbauan, dan anjuran agama akan lebih diterima bila disampaikan melalui lagu. Pasalnya, lirik lagu menawarkan ritmis notasi dan kedalaman makna yang dapat membuat hati terbuai dalam alunannya.
Karena itu, tak mengherankan bila Opick senantiasa memasukkan ajaran-ajaran Islam dalam lagu-lagu yang dibawakannya. Lantas, dari mana ia mendapatkan pengetahuan mengenai ajaran Islam.
"Banyak. Alquran, hadis, kiai, dan ustaz. Semua bisa menjadi guru bagi saya," ujar Opick ketika dihubungi Media Indonesia, Rabu (17/9).
Sulitkah menjalani hidup sebagai penyanyi lagu-lagu bernuansa religius? Menurut Opick, mudah. Ia pun memberi beberapa kiat, yaitu jalani dengan sungguh-sungguh profesi yang ditekuni dan miliki niat yang lurus. Niat yang lurus, insya Allah, akan berbuah manis.
Di tengah-tengah jadwal turnya yang padat, kegiatan tersebut terus berlangsung selama Ramadan tahun ini. Begitu pula dengan puasa, salat lima waktu, dan tarawih. Salat lima waktu biasanya dilaksanakan secara berjemaah. Sementara itu, salat tarawih dilakukan sendiri.
Ya, itulah Opick. Berbekal ucapan basmallah, ia berusaha mengajak orang untuk mengenal Tuhan dan mengenal ajaran Islam dengan cara yang ringan. Tak percaya? Simak saja potongan lirik yang ada di dalam lagu Tombo Ati berikut ini.

Obat hati ada lima perkaranya
Yang pertama baca Quran dan maknanya
Yang kedua salat malam dirikanlah
Yang ketiga berkumpullah dengan orang saleh
Yang keempat perbanyaklah berpuasa
Yang kelima zikir malam perbanyaklah

(Dimuat di Edisi Ramadan Media Indonesia pada tanggal 19 September 2008)

Inspirasi: Ermey Sukses setelah Memanfaatkan Semua Peluang

HOBI, lagi-lagi bisa mengantarkan seseorang meraih sukses dalam berbisnis dan berkarier. Karena itu jika Anda memiliki hobi, kembangkanlah. Siapa tahu hobi itu dapat mengantarkan Anda menuju gerbang kesuksesan, seperti yang dialami Ermey Trisniarty, pemilik usaha Dapur Cokelat.

Menurut Ermey Trisniarty, 30, ia mendirikan Dapur Cokelat tahun 2001 dengan menyewa sebuah tempat di Jalan KH Ahmad Dahlan, Jakarta Selatan. Di tempat itu, ibu dari Adithya Pratama, 15, dan Akheela Chandra, 7 bulan, menjual aneka kue dan permen cokelat yang ia produksi.

Tatkala ditanya mengapa ia memilih cokelat sebagai bahan baku utama dari kue dan permen yang dijual di Dapur Cokelat, Ermey segera menjawab pertanyaan tersebut sambil tertawa ringan.
"Saya hobi ngemil cokelat. Begitu gemarnya makan cokelat, saya sampai bercita-cita mendirikan toko cokelat," ungkap wanita yang hobi memasak itu.


Sebelum cita-citanya itu terwujud, Ermey memulai bisnis kue dan permen cokelat dengan menerima pesanan di rumah. Bisnis rumahan tersebut ia lakukan selama lima tahun, sejak masih kuliah tahun 1994, hingga bekerja dan melanjutkan pendidikan di jurusan manajemen.

Meskipun hanya menjalani bisnis rumahan, Ermey cukup agresif mempromosikan kue dan permen buatannya. Setiap Idul Fitri, Natal, Valentin, dan Tahun Baru tiba, anak ketiga dari tujuh bersaudara itu menitipkan sampel kue dan permen kepada kerabat, kakak, dan adiknya.

"Upaya promosi itu membuahkan hasil. Pesanan berdatangan. Ada yang dari kerabat, teman kerja kakak, teman kuliah adik, dan teman kerja sepupu. Bahkan, ada pula yang menjadi pelanggan tetap," kata Ermey.

Untuk memenuhi pesanan tersebut, Ermey menghabiskan sekitar 50 kg cokelat masak dalam sebulan. Ketika menerima pesanan itulah ia melihat ada peluang pada pangsa kue dan permen cokelat, baik dari sisi konsumen maupun lingkungan industri.

"Saat itu saya lihat banyak orang yang gemar makan cokelat. Tapi, di pasaran belum banyak beredar kue dan permen cokelat. Kalaupun ada, hanya di hotel. Harganya pun relatif mahal," ujar Ermey sambil tertawa.

Dari situ timbul ide membuat toko kue dengan harga yang lebih murah daripada hotel. Kebetulan, ide tersebut memang sejalan dengan cita-cita Ermey untuk mendirikan toko cokelat.

Akhirnya, berbekal uang Rp75 juta yang ia peroleh dari orang tuanya, Ermey mendirikan Dapur Cokelat. Uang yang menurutnya 'pas-pasan' itu, ia gunakan untuk menyewa sebuah toko di Jalan KH Ahmad Dahlan, Jakarta Selatan. Sisanya, ia gunakan untuk membeli peralatan
produksi, mendekorasi toko, dan membiayai kegiatan promosi.

Berhubung budget terbatas, Ermey terpaksa menekan biaya yang harus dikeluarkan. Untuk menekan biaya promosi, Ermey menggunakan mailing list sebagai sarana promosi. Lewat mailing list tersebut, wanita yang murah senyum itu menginformasikan kegiatan 'icip-icip' gratis selama dua bulan di tokonya. Untuk menekan biaya 'icip-icip' gratis, sampel kue ia potong kecil-kecil.

Upaya lain untuk menekan biaya ia lakukan dengan membeli alat produksi yang tidak disesuaikan dengan standar pastry, melainkan fungsi dan hasil akhir. Cetakan cokelat yang seharusnya terbuat dari stainless steel, ia ganti dengan cetakan kue satu yang terbuat dari kayu atau plastik. Bahkan, beberapa alat seperti meja kerja, dia bawa dari rumah.

Di samping kendala biaya, Ermey juga sempat dihadapkan dengan rasa cemas dan takut kue yang dijualnya tidak laku. Namun, rasa takut itu dihalaunya berkat adanya dukungan dari keluarga.

Sang suami, Okky Dewanto, 46, turut memegang peranan dalam mendukung bisnis Ermey. Dalam menjalankan Dapur Cokelat, pasangan suami istri ini berbagi tugas. Okky bertanggung jawab atas manajemen Dapur Cokelat. Sementara Ermey bertanggung jawab mengawasi kegiatan produksi Dapur Cokelat.

Kekompakan mereka dalam mengelola Dapur Cokelat, tampaknya, membuahkan hasil. Kini Dapur Cokelat telah tersebar di tiga tempat, Jalan KH Ahmad Dahlan, Menteng, dan Bekasi. Rencananya, bulan Juli nanti, akan dibuka satu Dapur Cokelat lagi di Jalan Wijaya, Jakarta Selatan.

Di sela-sela kesibukan mengelola tiga Dapur Cokelat, Ermey masih sempat travelling ke luar kota. Pasar tradisional merupakan salah satu tempat yang wajib dikunjunginya tatkala ia pergi ke luar kota. Sesekali, ia juga pergi ke luar negeri, seperti Singapura.

Selain travelling, Ermey juga mengisi waktu luangnya dengan membaca buku tentang masakan maupun profil orang-orang terkenal. Dari buku masakan yang dibacanya, ia sering mendapat ide untuk melakukan inovasi terhadap produk yang dijualnya. Sedangkan dari profil yang dibacanya, Ermey selalu menemukan hal menarik yang dapat ia terapkan dalam menjalani hidup. Mungkin, kebiasaan membaca profil itulah yang membuat wanita ini terinspirasi untuk menjadi wanita sukses seperti sekarang.(Dimuat di Rubrik Peluang Media Indonesia pada tanggal 23 Mei 2005)

TEASER:

---------

"Saat itu saya lihat banyak orang yang gemar makan cokelat. Tapi, di pasaran belum banyak beredar kue dan permen cokelat. Kalaupun ada, hanya di hotel. Harganya pun relatif mahal."

Inspirasi: Mesin Jahit Tua, Modal Awal Jackie

KECINTAAN Zakiah Ambadar, 54, pada anak kecil, membuat perempuan yang biasa dipanggil Jackie ini tertarik mendirikan Le Monde pada tahun 1982 lalu.
Lewat perusahaan yang dirintis bersama dua adiknya, Nina dan Ida, wanita kelahiran Jakarta itu berusaha untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan produk perlengkapan bayi yang tidak saja komplet, tapi juga berkualitas.
"Gagasan membuka Le Monde muncul ketika Ida pergi ke Australia. Di sana, Ida melihat ada sebuah toko perlengkapan bayi yang lengkap dan bagus," ungkap lulusan Sosiologi Universitas Indonesia (UI) tahun 1971 itu.
Menyadari toko selengkap itu belum ada di Indonesia, Jackie dan dua adiknya sepakat membangun usaha yang memproduksi aneka perlengkapan bayi. Alasan lain, Jackie melihat adanya kebutuhan kaum ibu akan perlengkapan bayi yang lengkap terus meningkat.
"Saat itu, kaum ibu mulai disibukkan dengan aneka pekerjaan.Akibatnya, mereka tidak sempat menjahit perlengkapan bayi, seperti bantal, guling, seprei, dan pernak-pernik lainnya," kata Jackie.
Berbekal sebuah mesin jahit tua milik ibu mereka dan uang sebesar Rp900 ribu, hasil patungan, Jackie dan dua adiknya memproduksi aneka perlengkapan bayi yang dibutuhkan kaum ibu. Selanjutnya, produk-produk itu mereka pasarkan melalui sebuah counter yang mereka sewa di Pasaraya. Produk andalan Le Monde saat itu ialah keranjang bayi (carry basket).
Awalnya, keterlibatan Jackie di Le Monde hanya sebagai konsultan manajemen karena ia masih memiliki 'bayi' bernama PT Surindo Utama yang harus dikelolanya.
"Sebelum Le Monde, saya telah mendirikan PT Surindo Utama tahun 1980. Beban saya terlalu besar bila harus mengelola dua perusahaan. Apalagi PT Surindo Utama yang bergerak di bidang jasa penelitian dan konsultan sumber daya manusia (SDM) itu mulai berkembang sehingga memerlukan perhatian ekstra," kata Jackie.
Sebagai konsultan yang berpengalaman di bidang penelitian, Jackie mengamati, bisnis yang dijalani Le Monde berprospek cerah.Antusiasme masyarakat terhadap produk yang dijualnya cukup tinggi.
Pada hari pertama counter Le Monde dibuka, di jam pertama, produk yang di-display langsung terjual. Hal tersebut, tentu saja, membuat semangat Jackie dan adiknya kian tinggi. Dari hari ke hari, penjualan meningkat dari puluhan unit per bulan menjadi ratusan unit per bulan. Akhirnya, Jackie dan dua adiknya memutuskan untuk mendirikan toko.
Pada 1984, toko pertama yang terletak di Jalan Radio Dalam pun berdiri. Kemudian, pada 1986, produk-produk Le Monde mulai dipasarkan ke negara-negara yang ada di Australia, Eropa, dan Timur Tengah. Pada 1993, Jackie melepaskan diri dari PT Surindo Utama dan melibatkan diri dalam jajaran manajemen Le Monde.
Tantangan yang dihadapi Jackie tatkala mulai melibatkan diri dalam jajaran manajemen Le Monde cukup berat. Le Monde yang tadinya merupakan satu-satunya pemain di industri perlengkapan bayi, harus menghadapi pemain-pemain baru yang muncul dan menawarkan produk-produk baru. Dalam menghadapi persaingan yang kian ketat, Jackie punya kiat sendiri. "Sebagai pionir, Le Monde harus selangkah lebih maju dan kreatif," kata wanita yang hobi menulis, fotografi, dan berkebun itu.
Berbekal kiat tersebut, ia pun meluncurkan berbagai jenis produk baru dengan desain yang baru pula. Strategi itu berhasil. Permintaan (demand) meningkat. Namun, sayangnya, pengawasan kualitas (quality control) yang ketat membuat kapasitas produksi Le Monde tidak dapat memenuhi semua permintaan yang ada.
Kendala lain muncul. Belum lama terlibat secara penuh dalam manajemen Le Monde, tahun 1997, Jackie harus kembali ke PT Surindo Utama untuk membenahi laporan keuangan yang 'berantakan' akibatmismanagement. Kembalinya Jackie ke PT Surindo Utama membuat ia harus mengelola dua perusahaan pada saat bersamaan. Tapi, bukan Jackie namanya, jika ia tidak pandai membagi waktu.
Kelihaiannya membagi waktu dan mengelola perusahaan membuat PT Surindo Utama dan Le Monde tetap eksis hingga saat ini. Bahkan, Le Monde terus berkembang. Di tangan ibu dari Revo, 19, dan Fanny, 18 itu, kini produk-produk Le Monde telah tersebar di sembilan toko dan lebih dari 100 counter yang ada di seluruh Indonesia. Lima dari sembilan toko yang ada, dimiliki oleh pemegang hak waralaba Le Monde.
Tatkala ditanya tentang kunci sukses dalam mengelola Le Monde, wanita yang pernah bercita-cita menjadi wartawan itu menjawab, "Komitmen untuk membuat produk berkualitas untuk konsumen kelas menengah-atas harus selalu dijaga."
Saat ini, wanita yang mengisi liburan akhir pekannya dengan berkebun itu sedang merintis sebuah yayasan bernama 'Komunitas Kencana'. Lewat yayasan tersebut, ia dan rekan-rekannya ingin memberikan apresiasi terhadap orang-orang berusia lanjut dengan menyediakan sarana, fasilitas, dan program jasa layanan bagi warga berusia di atas 50 tahun. (Dimuat di Rubrik Peluang Media Indonesia pada tanggal 30 Mei 2005)