Tuesday, 30 June 2009

Sebuah Pelukan untuk Masa Depan yang Lebih Baik

SEBUAH pelukan ternyata berarti banyak bagi semua orang, tak terkecuali anak dan remaja. Lewat sebuah pelukan, orang akan merasa dihargai dan dicintai.
Karena itu, sebagaimana dikatakan Psikolog Anak Seto Mulyadi, pelukan dapat memberi efek yang sangat besar bagi penerimanya.
"Setiap orang pada dasarnya ingin dihargai dan dicintai karena keduanya merupakan kebutuhan dasar manusia," kata psikolog yang biasa dipanggil Kak Seto itu, Jumat (26/6), di Jakarta.
Hanya dengan sebuah pelukan, orang tua juga dapat mengurangi risiko anak terjatuh pada 'pelukan' pengedar narkoba. Sejauh ini, kurangnya perhatian dari orang tua kepada anak masih disebut-sebut sebagai salah satu penyebab anak kecanduan narkoba.
Berlatar belakang alasan tersebut, para orang tua dituntut agar dapat bertindak sebagai teman bagi anak mereka serta mampu menjaga rumah tangga supaya tetap 'hangat'. Untuk menjawab tuntutan itu, orang tua sebenarnya dapat melakukannya dengan cara yang sederhana. Misalnya saja, dengan cara memberikan sebuah pelukan pada saat anak mendapatkan nilai bagus di sekolah atau ketika anak sedang sedih. Cara lain yang dapat diaplikasikan adalah melakukan aktivitas sarapan, makan malam atau berdoa bersama. Selain sederhana, ritual seperti itu juga tidak membutuhkan waktu lama.
Manfaat lain dari sebuah pelukan ialah mencegah anak menjadi kecanduan internet. Lagi-lagi, kurangnya perhatian dari orang tua disebut-sebut sebagai penyebab anak mencari 'perhatian' di tempat lain. Salah satu media yang dapat memenuhi kebutuhan anak akan itu adalah internet.
Bagi sejumlah anak, internet merupakan media untuk mendapatkan kesenangan. Lewat internet, mereka bisa mendapatkan teman atau sekadar bermain dengan memanfaatkan situs-situs yang menawarkan aneka permainan yang menyenangkan. Di satu sisi, hal itu baik karena dapat memperluas jaringan pertemanan. Di lain pihak, internet dapat pula menjadi 'sumber bencana'.
Sebuah pelukan, lagi-lagi diklaim dapat membantu anak agar terhindar dari dampak negatif internet.
Keunikan lain dari sebuah pelukan terletak pada kemampuannya untuk menyembuhkan penyakit. Kontak dari kulit ke kulit yang bisa diperoleh dari kegiatan memeluk merupakan makanan bagi jiwa. Sama halnya dengan perut yang membutuhkan asupan makanan, jiwa pun memerlukannya. Jiwa yang kekurangan 'makanan' dapat berdampak pada terganggunya hormon di dalam tubuh serta emosi.
Nah, 'makanan' bagi jiwa yang mudah diperoleh tanpa perlu diracik lagi adalah pelukan. Karena itu, ingatlah untuk senantiasa memberi pelukan sayang kepada anak. Dengan begitu, anak akan merasa dihargai, diperhatikan, dan disayangi oleh orang tuanya. Anak yang berada dalam lingkungan seperti itu berpotensi untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih terbuka dan tidak perlu mencari-cari lagi kasih sayang dari tempat lain. Jika kondisi itu tercipta, anak berpeluang untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik.

Wednesday, 24 June 2009

Sehat dengan Berjalan Kaki

SEHAT itu murah. Cukup dengan jalan kaki tergopoh-gopoh, Anda dapat mengurangi risiko terkena beberapa jenis penyakit. Misalnya saja, serangan jantung.
Hasil penelitian Framingham Heart Study yang dilakukan terhadap orang-orang berusia di atas 46 tahun menunjukkan bila jalan kaki juga bisa membuat rata-rata harapan hidup menjadi lebih panjang.
Anda mungkin bertanya-tanya, apakah yang dimaksud dengan jalan tergopoh-gopoh itu.
Menurut dr Handrawan Nadesul, jalan tergopoh-gopoh adalah berjalan kaki dalam waktu 6 kilometer per jam atau setara dengan 100 meter per menit.
Ia menambahkan, jalan tergopoh-gopoh atau walking endurance itu cukup dilakukan dengan frekuensi satu sampai lima kali seminggu. Pada saat berjalan, Anda sebaiknya mengenakan sepatu yang nyaman, tidak bertelanjang kaki. Jalan kaki juga cukup dilakukan dalam waktu 40-50 menit dan sebaiknya tidak lebih dari itu.
Namun, bagi mereka yang sudah lama atau memang tidak pernah melakukan aktivitas walking endurance, jalan kaki sebaiknya dilakukan secara bertahap. Pada pertama kali, jalan kaki cukup 10 menit. Setelah itu, barulah ditambah. Yang penting, lakukan secara rutin.
Di samping dapat mengurangi risiko terkena penyakit, jalan kaki tergopoh-gopoh atau walking endurance direkomendasikan pula untuk dimasukkan sebagai bagian dari program penurunan berat badan. Ingin bukti? Coba saja lakukan selama sebulan. Jangan lupa, timbang berat badan sebelum program dimulai dan bandingkan satu bulan kemudian.

Yuk Ubah Gaya Hidup Agar Terhindar dari Osteoporosis

Beberapa hari yang lalu, seorang rekan kerja berkunjung ruangan saya. Ia bercerita bila ayahnya harus dioperasi akibat osteoporis. Saya jadi teringat salah seorang saudara yang belum lama ini 'pergi' akibat penyakit osteoporosis yang dideritanya.
Penasaran dengan penyakit ini, saya pun langsung membongkar-bongkar materi seminar bertema Mencegah Osteoporosis dengan Tulang Sehat dan Kuat yang dibawakan Dr Soegiarto Sp. OT. di Omni International Hospital beberapa bulan lalu. Tepatnya, sebelum kasus Prita mencuat ke permukaan.
Menurut Dr Soegiarto, osteoporosis adalah kelainan pada tulang yang ditandai dengan menurunnya massa tulang sehingga menyebabkan tulang menjadi rapuh dan mudah patah.
Lantas, siapa saja yang berisiko terkena osteoporosis? Kaum lansia, terutama yang berusia di atas 55 tahun, lalu wanita, etnis Asia, gaya hidup yang kurang aktif, kurus, riwayat osteoporosis atau patah tulang akibat osteoporosis dalam keluarga, gangguan keseimbangan hormonal (estrogen), perokok, orang-orang yang sering mengonsumsi minuman beralkohol, penggemar minuman berkafein, diet dengan intake rendah kalsium, penggunaan obat-obatan seperti prednisone dan antikejang, serta kelainan atau penyakit tertentu.
Data yang diperoleh dari Dr Soegiarto menunjukkan bila satu dari dua wanita dan satu dari delapan pria terkena osteoporosis.
Data tersebut sekaligus menginformasikan bila wanita, khususnya yang berusia di atas 55 tahun, harus lebih berhati-hati ketimbang pria. Apabila terjadi pegal-pegal pada tulang, terutama di daerah punggung atau pinggang, segera berkonsultasi dengan dokter.
Namun, sebelum osteoporosis menyerang, ada sejumlah cara yang dapat dilakukan. Pertama, ubah pola hidup. Misalnya saj dengan cara berhenti merokok, tidak mengonsumsi minuman beralkohol, dan melakukan latihan fisik yang memadai. Kedua, lakukan diet cukup kalsium dengan cara mengonsumsi 1.000-1.500 kalsium perhari dan intake vitamin D yang adekuat (400-800 IU perhari).
Kebutuhan kalsium dan vitamin D setiap orang tergantung pada usia.
Anak-anak berusia 4-8 tahun, kebutuhan kalsiumnya ialah 800mg. Lalu, anak berusia 9-18 tahun, 1.300mg. Sedangkan di atas 51 tahun, 1.200mg.
Sementara itu, kebutuhan vitamin D orang-orang berusia di bawah 50 tahun ialah 400-800IU perhari. 50 tahun ke atas, 800-1.000-IU perhari.
Beberapa jenis bahan makanan yang dapat dikonsumsi untuk mencegah osteoporosis ialah kuning telur, ikan laut, dan hati.
Kesimpulannya, jangan kecewa kalau Anda sakit hati akibat perbuatan orang. Karena, makan hati ternyata terbukti dapat mengurangi risiko terkena osteoporosis.